• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Jumat, 25 November 2011

Jangan Sepelekan Hal-Hal Yang Kecil



Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Nabi saw pernah bersabda kepada Bilal selepas sholat Subuh, “Ceritakan kepada saya satu amalan yang paling engkau andalkan dalam Islam, karena sesungguhnya pada suatu malam saya mendengar suara terompah  kamu berada di pintu surga”. Bilal berkata : “Saya tidak melakukan sesuatu apapun yang lebih baik melainkan saya tidak pernah bersuci dengan sempurna pada setiap saat, baik malam maupun siang hari kecuali saya selalu melakukan sholat sebanyak yang mampu saya kerjakan”. (HR. Al-Bukhari)

Hadits ini sangatlah masyhur. Hadits ini juga mengisyaratkan kalaulah sosok Bilal bukanlah seorang sahabat yang biasa-biasa saja. Bilal adalah seorang budak yang karena keimanannya bisa menaikkan “level” nya di hadapan Allah SWT, hingga syurga-Nya rindu di-kunjunginya. Subhanallah….
Sahabat saya yang SuksesBahagia,
Mencoba memaknai hadits di atas, ada yang harus kita contoh dari amalan-amalan Bilal. Yaitu mengkonsistenkan diri dalam amalan-amalan sunnah, sebagaimana Bilal lakukan, yang ternyata justru sunnah-sunnah inilah yang sebenarnya bisa menghantarkan kita kepada syurga. Ibadah sunnah adalah “pelengkap” dari ketidaklengkapan kualitas ibadah wajib kita. Sering kita alami disaat sedang shalat fardhu misalnya, badan kita menegakkan shalat, namun jiwa atau pikiran entah kemana. Itulah ketidaklengkapan kualitas kita.
Selain itu, ibadah sunnah mengajarkan kita bahwa, untuk mencapai kebahagiaan (syurga) kita tidak boleh menyepelekan hal-hal yang kecil. Hidup ini sangatlah sederhana. Maka janganlah kita membuat hidup menjadi “semrawut” hanya dikarenakan kita kurang “dewasa” dalam memandangnya. Kurang dewasa artinya disaat hidup terasa jauh dari yang diharapkan, kita malah membuatnya semakin jauh dari harapan itu, dengan berpikir dan berprasangka negative kepada Tuhan.
Nah, contoh tidak menyepelekan hal-hal yang kecil (atau justru inilah yang terbesar) adalah menikmati segarnya udara yang kita hirup dengan mengucap syukur kepada-Nya. Sungguh, andaikata kita harus membayar oksigen yang kita hirup, maka panjangnya usia kita tidak bisa digunakan untuk mengumpulkan uang sebagai bayarannya.
Kemudian, kita juga mampu mensyukuri nikmatnya mata bisa melihat, telinga bisa mendengar, mulut bisa berucap, tangan dan kaki bisa bergerak, dan lain sebagainya. Dengan kemampuan mensyukuri hal-hal yang “kecil” ini, kita akan terarahkan untuk bisa hidup bahagia, jauh dari keluh kesah. Karena kita sadar bahwa, kenyataan hidup yang jauh dari  yang diharapkan, itu adalah hal yang sangat kecil bila dibandingkan dengan nikmat atau kenyataan lainnya yang Allah berikan.
Hum,, saya jadi malu menulisnya. Karena, kadang saya juga seperti itu. Masih melihat “masalah” yang Allah berikan adalah masalah besar.  Padahal nikmat-Nya jauh lebih besar dari mesalah-masalah yang diterima.
Maka sahabat saya yang SuksesBahagia,
Raih kebahagiaan hidup dengan mensyukuri hal-hal yang “kecil”, sebagaimana Bilal meraih syurga dengan hal yang “kecil”. Lalu meng-konsisten-kannya dalam keseharian kita. Saya jamin, ketika kita disibukkan dengan mensyukuri hal-hal kecil, kita akan terlepas dari masalah yang (sebenarnya) jauh lebih kecil.
Wallahu’alam….



KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Kamis, 24 November 2011

Naik Kelas Setiap Hari


Tahun 2001 adalah awal tahun yang berat bagi saya. Tiga hari menginjak kelas 3 di SMU, ayah tercinta dipanggil Yang Maha Kuasa. Sontak, saya tertekan luar biasa. Saya hanyalah orang dari keluarga sederhana. Harta-pun pas-pasan. Sempat saya bingung bagaimana saya bisa melanjutkan sekolah di SMU, apalagi ketika tepikirkan untuk terus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Wah, sesuatu yang mustahil buat saya pada waktu itu.

Dengan berbekal presetasi yang dimiliki, saya mencoba mengajukan bea-siswa ke beberapa lembaga pendidikan, dan setelah melewati proses yang panjang, alhamdulillah saya-pun dapat menyelesaikan sekolah SMU dengan nilai yang cukup memuaskan.

Satu masalah selesai. Timbul masalah baru bagi saya. Saya lulus seleksi mahasiswa IPB tanpa harus mengikuti tes SPMB. Saya lulus melalui jalur prestasi akademik. Namun yang terjadi adalah, saya (keluarga) tidak memiliki cukup uang untuk membiayai semua kebutuhan untuk kuliah di IPB, padahal saya sangat memimpikan untuk dapat kuliah di IPB.

Akhirnya saya-pun mengikuti SPMB (tentu dengan kekecewaan). Alhamdulillah lulus, meskipun bukan di universitas favorit. Berbekal keuletan dan kegigihan, akhirnya saya-pun dapat menyelesaikan studi di kuliahan.

Sahabat SuksesBahagia,

Saya meyakini betul bahwa, setiap masalah yang hadir dalam kehidupan kita pasti mengandung makna. Untuk itulah, dalam setiap menghadapi masalah, selalu hadir pertanyaan dalam benak saya : makna apa yang bersembunyi di balik kejadian ini? Aspek mana yang harus diperbaiki dari diri ini atas kejadian yang menimpa? Bermodalkan dua pertanyaan ini, sering kali kegiatan mengurut dada sambil menarik nafas pajang dalam-dalam menjadi lebih mudah dan menyenangkan.

Tentu bukan tempatnya jika kemudian saya menceritakan secara detail setiap permasalahan yang saya hadapi sejak tahun 2001, sampai-sampai saya membuat kesimpulan bahwa tahun 2001 adalah awal tahun yang berat bagi saya. Yang jelas, saya selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya dengan menghadirkan masalah, saya dituntut untuk bisa menghadapinya, dan Tuhan memang telah memberikan jalan keluarnya.

Ada seorang ibu dari teman Sekolah Dasar saya pernah menuturkan sesuatu yang sangat berharga buat saya. Sang ibu memberikan petuah, kehidupan sebenarnya adalah sekolah kearifan yang peling berguna. Sama dengan sekolah yang sebenarnya, ia juga menyimpan banyak PR. Setiap kali sebuah PR selesai, pasti akan disusul oleh PR yang lain. Susul-menyusul PR yang datang itulah ciri sekolah kehidupan yang amat dikagumi oleh ibu sahabat saya. Luar biasa gunanya buat saya, terutama dikala sedang mendapat tindihan masalah yang menggunung.

Dibagian lain petuahnya, sang ibu bertutur lebih apik lagi. Ketika persoalan, tantangan, atau godaan itu datang, itu berarti masa ulangan umum menjelang kenaikan kelas atau kelulusan akan datang. Ini berarti, dibalik kesulitan yang menggunung, bersembunyi kemungkinan untuk naik ke kelas yang lebih tinggi. Bayangkan, kapan saya bisa naik kelas, kalau setiap kali ada persoalan hidup mau lari?

Kedua petuah bijak ini, jujur mengingatkan saya kembali, betapa seringnya saya kehilangan kesempatan untuk naik kelas dalam kehidupan, dan betapa banyaknya PR yang saya tinggalkan.

Bercermin dari pengalaman ini, mungkin akan ada banyak gunanya bila membayangkan teru-menerus kehidupan seperti sekolah. Masalah yang datang adalah PR. Godaan dan tantangan yang lebih berat biasanya adalah sebentuk ulangan umum. Bedanya, penilai dan pengujinya adalah Tuhan. Apakah kita akan dikatakan manusia yang lulus oleh Tuhan atau tidak. Kalau kita ingin lulus dihadapan Tuhan, maka kita harus rajin belajar, belajar tentang kehidupan. Mudah kedengarannya, mudah di ucapkan, diperlukan kesabaran, ketekunan untuk maju terus dalam mencoba. Semoga kita bisa naik kelas atau lulus setiap hari.



KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia


Terinspirasi dari Gede Prama

View Details

Senin, 21 November 2011

Resensi Buku: HENING




Perjalanan rahasia adalah perjalanan menyelam ke dalam hati, sebuah perjalanan haji menuju mekah diri, yaitu ka’bah hati. Hati kita adalah sebuah kuil Tuhan. Seperti pengalaman seorang yang naik haji, yang dipenuhi dengan tangisan, maka perjalanan kita ke dalam diri pun, seperti itu. Bila kita belum menangis, menangisi diri kita, bisa jadi kita belum melakukan perjalanan apapun. Menangis itu seperti wudhu dalam shalat. Membasuhkan air kepada batin, yang tugasnya adalah menyucikan.
Anak-anak bayi, saat lahir dari rahim ibunya, sebagai tanda kehidupan ia harus menangis. Mengapa bayi menangis? Menurut para pejalan spiritual, itu karena hatinya begitu terbuka dan tanpa noda. Tangisan adalah ressponnya yang pertama terhadap kehidupan. Jadi, ketika Anda menangis, sebenarnya saat itu Anda sedang membersihkan hati Anda.
Dua paragraph di atas, adalah cuplikan dari sebuah artikel dengan judul Air Mata Kehidupan, dari sebuah buku yang baru saya baca. Buku yang di tulis oleh Cahyu Purnawan dengan judul “HENING: Perjalanan ke Dalam Diri untuk Mensyukuri Nikmat-Nya ini adalah salah satu buku “spiritual” yang sangat menyentuh hati-sanubari. Maka tidak heran jika, ketika Anda membacanya, air mata akan berurai dengan sendirinya.
Mengapa? Karena tentu “kajiannya” adalah cerminan keseharian dari kehidupan kita, yang sering kita lupakan. Maka pantas jika buku ini bisa dijadikan sebagai alat bantu kita untuk menemukan pencerahan batin.
Sebagai contoh lain, dalam sebuah artikel yang berjudul Jamban. Cahyu dengan lugasnya “menafsirkan” jamban sebagai tempat pembuangan “kotoran-kotoran” manusia. Ya benar, maksud kotoran disitu tidaklah kotoran secara fisik belaka. Tapi juga kotoran yang sifatnya immaterial. Kebencian, cemoohan, iri, dengki, permusuhan, dan yang lainnya. Dan selayaknya kita pun harus bisa berperan sebagai “jamban” sebagaimana jaman menampung kotoran (fisik) manusia.
Artinya adalah, misalkan ketika Anda mendapat sebuah “stimulus” dari orang lain berupa kebencian. Maka buanglah kotoran itu (kebencian) ke dalam “jamban” yang ada di dalam diri kita, lalu kita olah, dan kita jadikan “pupuk” untuk kehidupan kita (lihat catatan saya sebelumnya, Pupuk Kehidupan).
Kemudian, untuk realita keseharian kita yang semakin hidup dengan ke-egoisan, Cahyu menggambarkan dalam kisah pribadinya ketika menyaksikan “orang-orang” yang kurang beruntung dalam hidup, dililit kemiskinan, yang terasing dari manusia lainnya, dalam sebuah artikel “Angkuhnya Siang Itu”. Saya jamin, Anda akan menguraikan air mata ketika membaca artikel tersebut, sangat menyentuh.
Dan masih banyak lagi artikel-artikel lainnya (total ada 28 artikel) di buku Hening ini. Kelebihan lainnya adalah Cahyu dengan “bahasa-nya” yang enak, membedah ayat-ayat Al-Quran, yang saya pikir jarang sekali kita bisa merenungkannya. Bahasa tafsirnya sangat mudah difahami, karena berangkat dari realita kekinian (bisa disebut dengan tafsir kontemporer. Namun, tentu buku ini bukanlah sebuah Kitab Tafsir Al-Quran lho…).
Maka, buku setebal 263 halaman ini, bisa dijadikan buku alternative  dalam pencarian jati diri kita, karena buku ini menuntun kita untuk melakukan perjalan ke dalam diri, dengan mensyukuri segala nikmat-Nya. Sungguh, nikmat yang mana lagi yang akan kita dustakan ???


Selamat membaca !!!



KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Sabtu, 19 November 2011

SEMUT DAN KARUN YANG MATI DALAM KENIKMATAN



“Dia mati dalam “kenikmatan” !” teriak istri saya tiba-tiba.
“Siapa bund ?” Tanya saya
“Ini, semut yang masuk ke dalam kaleng susu. Mereka masuk ke dalam, padahal sudah bunda kasih tatakan air. Eh, tetep saja semutnya bisa masuk dan mati deh, karena kekenyangan kalii ya …?” jawabnya.
Saya mendekatinya dan benar terlihat begitu banyak semut-semut yang mati dalam cairan susu kaleng. Mereka mati dalam “kenikmatannya”, mati dalam “keserakahannya”.
Melihat semut yang mati dalam “kenikmatannya”, pikiran saya melayang kepada kisah yang terjadi di jaman Nabi Musa AS. Hm, siapa lagi kalau bukan Karun. Dalam kisahnya, Karun mati ditenggelamkan bersama seluruh harta kekayaannya (kenikmatannya) ke dalam bumi oleh Tuhan karena keangkuhannya (lihat Q.S. A-Qhasas [28] : 81). Karun angkuh, merasa memiliki ilmu yang akhirnya mampu menguasai harta kekayaan. Dia tidak “mengakui” kalaulah hartanya itu adalah titipan dari Tuhan (lihat Q.S. Al-Qhasas [28] : 78).
Sahabat,
Kesombongan, keangkuhan, dan serakah adalah akar penyebab murka-Nya. Maka bersikaplah yang “tepat” dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Sikap yang tepat terhadap harta adalah mensyukuri apa yang didapatkan dengan beramal shaleh (bersedekah, membayar zakat), bukan sikap serakah ingin “menguasainya”, karena menguasai dengan dasar serakah, justru harta itulah yang akan menguasai manusia.
Sikap yang tepat terhadap manusia adalah memperlakukannya dengan ahlak yang baik (tidak sombong atau angkuh), tidak merasa paling berilmu, dan sikap merasa “paling” lainnya yang pada akhirnya akan menjadikan kebencian tumbuh subur di muka bumi ini.
Sikap yang tepat terhadap ilmu yang dimiliki adalah mengamalkannya dan mengajarkannya kepada manusia yang lain. Sungguh, ketika ilmu diamalkan dan diajarkan kepada yang lain, ilmu itu akan semakin berkembang dan bertambah.
Sikap yang tepat terhadap “diri sendiri” adalah dengan “mengenalinya” (makrifatunnafsi). Mengenali diri sendiri berarti menyadari perannya sebagai khalifah di bumi ini. Menjaga ketenteraman, ketertiban, keindahan, ketenangan, kemakmuran, dan sikap-sikap positif lainnya. Bukan dengan permusuhan, pembunuhan, saling caci-maki, tawuran, saling tuding, perceraian, penebangan hutan, membuang sampah sembarangan, dan sikap tercela lainnya yang dibenci-Nya.
Mengenali diri sendiri berarti menyadari kalaulah “aku” yang bertanggungjawab terhadap “aku”. Ya, apa yang kita lakukan, itu adalah untuk kita. Tidak bisa kita menyalahkan orang lain ketika ketidakberuntungan menyertai kita. Tuhan telah memberikan “kebebasan” kepada manusia untuk memilih. Memilih beriman atau tidak beriman, taat (takwa) atau ingkar, bahkan Tuhan juga memberikan kebebasan kepada kita untuk hidup bahagia atau tidak selama tinggal di muka bumi ini. Dan Tuhan telah membuat aturan (sunnatullah) atas pilihan-pilihan kita. Bahwa kalau iman yang kita pilih, maka surga jaminannya, dan sebaliknya, neraka akan diberikan bagi mereka yang ingkar terhadap Tuhan. Tinggal mana yang kita pilih. Namun, kesadaran kalaulah “aku” yang paling bertanggungjawab terhadap “aku”, itu akan menghantarkan kita kepada pilihan yang benar, seperti yang dikehendaki-Nya.
Sahabat,
Kembali ke kisah semut yang mati karena keserakahnnya dan karun yang sombong, buat kita adalah tidak seperti mereka. Ya, mereka adalah pelajaran bagi kita. Kita belajar tidak hanya kepada orang-orang yang sukses, tapi juga belajar kepada orang-orang yang gagal.


Semoga bermanfaat,



Salam SuksesBahagia !!!



KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Andai Kata Lebih ?


Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika
salah satu sahabatnya meninggal dunia
Nabi mengantar jenazahnya sampai
ke kuburan. Dan pada saat pulangnya
disempatkannya singgah untuk menghibur dan
menenangkan keluarga almarhum supaya tetap
bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Nabi berkata, "tidakkah
almarhum mengucapkan wasiat sebelum
wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar
dia mengatakan sesuatu diantara dengkur
nafasnya yang tersengal-sengal menjelang
ajal" "Apa yang di katakannya?" "saya tidak tahu,
ya Nabi, apakah ucapannya itu
sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan
pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma,
ucapannya memang sulit dipahami lantaran
merupakan kalimat yang terpotong-
potong." "Bagaimana bunyinya?" desak
Nabi. Istri yang setia itu
menjawab, "suami saya mengatakan "Andaikata
lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru.... andaikata semuanya...." hanya itulah yang
tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya.
Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam
keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang
tidak selesai?" Nabi tersenyum. "sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.

Kisahnya begini. Pada suatu hari ia sedang
bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan
shalat Jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan
orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu
tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.
Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba
di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas
penghabisan, ia menyaksikan pahala amal
sholehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih
panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke
masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya
lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Nabi?" tanya sang
istri mulai tertarik. Nabi menjawab, "adapun
ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia
melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada
hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-
pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan
ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk
menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan
suamimu membawa sebuah mantel baru, selain
yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya
yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut.
Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.
Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu
melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga
ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan
yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan
bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh
lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu
selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa
maksudnya, ya Nabi?" tanya sang istri
makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi
menjelaskan, "ingatkah kamu pada suatu ketika
suamimu datang dalam keadaan sangat lapar
dan meminta disediakan makanan? Engkau
menghidangkan sepotong roti yang telah
dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak
dimakannya, tiba- tiba seorang musafir mengetuk
pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas
membagi rotinya menjadi dua potong, yang
sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan
demikian, pada waktu suamimu akan
menghembuskan nafasnya, ia menyaksikan
betapa besarnya pahala dari amalannya itu.
Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ' kalau
aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya
kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya
kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku
akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan
Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat
baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan
orang lain.

Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas
dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat
buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri.
Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu
berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk
dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu
telah berbuat buruk atas dirimu pula."
(Al-Isra': 7)

Sahabat SuksesBahagia,

Tuhan telah berjanji bahwa, setiap kebaikan akan di balas dengan 700 kebaikan. Untuk itu janganlah kita menjadi manusia yang menyesal karena selama hidup sedikit sekali melakukan amal kebaikan. Dari sepenggal kisah di atas mengisayaratkan kepada kita bahwa, selagi hidup di dunia, marilah kita menjadi manusia yang selalu menebar kebaikan, bukan sebaliknya, menebar kejahatan, kejelekan, atau kemunkaran.

Selain itu adalah dalam melakukan kebaikan tersebut, kita harus totalitas dan memberikan yang terbaik dari yang kita punya. “I do My Best!” itulah slogan yang harus kita jadikan pedoman setiap hari dan dimanapun kita berada.
Ditempat kerja, katakanlah “I do My Best!” sehingga kita akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tidak perlu kita mencari-cari “pahala” atas apa yang akan kita kerjakan. Biarkan Tuhan yang akan membalasnya. Toh ketika kita telah memberikan yang terbaik untuk perusahaan, perusahaan-pun tidak akan “tutup mata”.

Sahabat SuksesBahagia,

Mulai saat ini, jadilah kita pribadi-pribadi yang memiliki semangat untuk memberi, memberi yang terbaik, memberi yang terbanyak. Biarkan Tuhan yang akan memberikan imbalan yang setimpal. Janganlah kita menjadi manusia yang ada karena ada pamrih. Lakukan dan lakukanlah yang terbaik, lalu perhatikan apa yang terjadi.



Salam SuksesBahagia ¡!!



KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Jumat, 18 November 2011

Doa Syaikh Dr. Yusuf Qardhawi


Di antara do’a yang dimunajatkan oleh Syaikh Dr. Yusuf Al Qardhawi, Ketua Persatuan Ulama Muslimin Dunia, yang bisa kita jadikan sebagai rujukan  :

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, rahmat dari sisi-Mu. Dengan rahmat-Mu Engkau menerangi hatiku. Dengan rahmat-Mu Engkau mengumpulkan dan memudahkan urusanku. Dengan rahmat-Mu Engkau balikkan sesuatu yang tiada dariku. Dengan rahmat-Mu Engkau Angkat kesaksianku. Dengan rahmat-Mu Engkau sucikan amalku. Dengan rahmat-Mu Engkau ilhamkan kedewasaanku. Dengan rahmat-Mu Engkau kembalikan sesuatu yang hilang dariku. Dengan rahmat-Mu Engkau jaga aku dari segala keburukan.”

“Ya Allah, karuniakan kepadaku keimanan dan keyakinan yang tidak ada kekufuran lagi setelahnya. Ya Allah karuniakan kepadaku rahmat, yang dengannya aku memperoleh kemulyaan-Mu, di dunia dan di akhirat. Ya Allah, ku mohon kepada-Mu keberhasilan dan keberuntungan dalam takdir. Predikat orang-orang syahid. Kehidupan yang bahagia. Dan pertolongan dalam menghadapi musuh.”

“Ya Allah, ku sampaikan kepada-Mu segala hajatku. Pendeknya pikiranku. Lemahnya amalku. Aku sangat membutuhkan rahmat-Mu. Karena itu, Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, Wahai Dzat Yang Mengabulkan segala urusan. Wahai Dzat yang Melapangkan dada. Sebagaimana Engkau mudah mengalirkan (air) di antara lautan. Maka ku mohon agar Engkau menghindarkanku dari siksa menyala-nyala. Menghindarkanku dari do’a yang sia-sia. Dan dari fitnah kubur. Ya Allah, sungguh, sangat pendek pikiranku tentang itu. Urusanku tidak sampai menjangkaunya. Dan niatku tidak sampai melampauinya, dari kebaikan yang telah Engkau janjikan kepada seseorang dari makhluk-Mu. Atau kebaikan yang Engkau berikan kepada seseorang dari hamba-hamba-Mu. Dan karena itu aku rindu kepada-Mu akan itu. Aku memohon kepada-Mu bisa mendapatkannya dengan rahmat-Mu, Ya Rabbal ‘Alamin.”

“Ya Allah, Dzat Yang mempunyai tali yang kuat dan urusan yang baik. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu rasa aman di hari persaksian. Syurga di hari kekekalan. Bersama orang-orang dekat lagi syuhada’. Bersama orang-orang yang rukuk lagi sujud. Bersama dengan orang-orang yang memenuhi janji-janjinya. Ya Allah, Sungguh Engkau Maha Cinta dan Kasih-Sayang. Dan Engkau bekerja sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki sendiri.”

“Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang menjadi sebab orang lain mendapat petunjuk, dan kami sendiri bagian dari orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Bukan orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Damai terhadap penolong-penolong-Mu. Perang terhadap musuh-musuh-Mu. Kami cinta dengan cinta-Mu kepada orang yang mencintai-Mu. Kami menentang dengan permusuhan-Mu terhadap orang yang melawan-Mu. Ya Allah, inilah do’a, telah kami panjatkan, karena itu sewajarnya Engkau mengabulkan. Ya Allah, kesungguhan telah kami buktikan, oleh karena itu Engkau pasti melepangkan.”

“Ya Allah, aku hamba-Mu, putra dari hamba-Mu, putra dari budak-Mu. Ubun-ubunku berada dalam genggaman-Mu. Hukum-Mu berlaku bagiku. Adil putusan-Mu padaku. Aku memohon kepada-Mu dengan menyebut segala nama-Mu. Nama Yang Engkau sendiri menamai-Mu. Atau nama yang telah Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Atau nama yang telah Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu. Atau nama yang hanya Engkau yang tahu karena Engkau rahasiakan dalam sisi-Mu. Agar Engkau, Ya Allah, menjadikan Al Qur’an sebagai pelita hatiku. Sebagai cahaya bagi dadaku. Sebagai penawar kegelisahanku. Sebagai penghalau kegundahanku.”

“Ya Allah, sayangi aku untuk meninggalkan maksiat dan dosa, selamanya, selama Engkau menghidupkanku. Ya Allah, sayangi aku, agar Engkau tidak membebani aku di luar kemampuanku. Ya Allah, karuniakan kepadaku penglihatan yang indah terhadap sesuatu yang Engkau ridhai dariku. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi. Dzat Yang Maha Tinggi lagi Terhormat. Mulya yang tiada duanya. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Kasih. Aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan Engkau dan cahaya Wajah-Mu, agar Engkau meneguhkan hatiku dalam menjaga kitab-Mu, sebagaimana Engkau mengajarkan itu kepada kami. Karuniakan kepadaku kekuatan untuk selalu membacanya sesuai yang Engkau ridhai.”

“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi. Dzat Yang Maha Tinggi lagi Mulya.Yang memiliki Kehormatan tiada tanding. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Kasih. Aku memohon kepada-Mu dengan kemulyaan-Mu dan cahaya Wajah-Mu, agar Engkau menerangi penglihatanku dengan Kitab-Mu. Agar Engkau melancarkan lisanku dengan kitab-Mu. Agar Engkau lapangkan hatiku dengan Kitab-Mu. Agar Engkau luaskan dadaku dengan Kitab-Mu. Agar Engkau bersihkan badanku dengan Kitab-Mu. Karena tidak ada yang bisa menolongku dalam menjalankan kebaikan selain-Mu. Tiada yang bisa mendatangkan kebaikan kepadaku selain Engkau. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali datang dari Engkau, Ya Allah, Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.” 


http://www.dakwatuna.com  


Semoga bermanfaat bagi sahabat SuksesBahagia

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details
 

Labels

Popular Posts