• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Jumat, 16 Desember 2011

Siapkan Diri Anda untuk Menjadi Pemimpin Masa Depan




Menjelang akhir 2011 ini, kita terbelalak menyaksikan seorang mahasiswa (Sondang) yang membakar diri demi (katanya) menyuarakan suara rakyat yang tidak puas dengan pemerintahan SBY. Berbagai macam spekulasi muncul disetiap obrolan ringan seputar kejadian itu. Entahlah, saya sampai saat ini, tak habis pikir, haruskah dengan membakar diri (bunuh diri) disaat kita menyerukan keadilan ?
Melihat sosoknya sebagai mahasiswa yang (katanya) intelek, berdedikasi tinggi, dan bermoral (tentunya), saya menyangsikannya. Maaf, dengan tidak mengurangi rasa hormat atas “keikhlasannya” itu, saya melihat hal itu hanyalah perbuatan yang “konyol”. Mari kita lihat, adakah perubahan signifikan pasca kejadian itu ? Apa tindakan pemerintah ? Yang saya saksikan hanyalah diskursus-diskursus dibeberapa media, yang (maaf) tidak memberikan solusi nyata dan bijaksana.
Saya pernah menjadi mahasiswa, dan menjadi bagian dari sebuah “pergerakan”. Namun, mungkin hanya sayalah Ketua BEM Fakultas yang jarang telihat turun ke jalan menyuarakan aspirasi “rakyat”. Gelar sebagai agent of change buat mahasiswa saya rasa kurang tepat. Ya, bukankah dari gelar itu mahasiswa hanya sebagai agen ? Agen siapa ? Rakyat ? Rakyat yang mana ?



Berbeda memang jika dibandingkan dengan pergerakan-pergerakan di awal perjuangan kemerdekaan. Tapi jika kita lihat, pasca 1998, kemanakah para aktivis ? Haha, mereka kini duduk manis di kursi empuk senayan. Oportunis !!! Mana hasil reformasi ?
Ah, sudahlah. Tak perlu kita bahas lebih jauh lagi. Yang ada adalah kekecewaan atas kemandulan pergerakan yang hanya melahirkan “sosok” pemimpian premature, yang sebenarnya belum saatnya memimpin bangsa yang besar ini.
So, sahabat saya yang SuksesBahagia,
Saya berpesan kepada Anda (terutama para generasi muda). Anda adalah calon penerus estafet kepemimpinan nasional. Maka saatnya Anda menyiapkan diri, dengan :
Meningkatkan knowledge. Pelajari ilmu pemerintahan dengan benar. Pelajari konsep “Negara Madani” sebagaimana Rasulullah lakukan. Karena hanya wawasan yang luaslah, Anda bisa menemukan “rumusan” alternative untuk mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan. Bukalah pikiran, luruskan mindset, dan berfikir sistematis serta antisipatif. Pengetahuan-pengetahuan tersebut mutlak Anda miliki sebagai calon pemimpin bangsa. Setelah knowledge (terutama tata kenegaraan) Anda miliki, maka selanjutnya,
Kuasai skill-nya. Belajarlah untuk menjadi pemimpin yang “berkualitas” (lihat tulisan saya sebelumnya: Pemimpin itu, THINK FIRST, DO FAST). Maka caranya adalah Anda terjun langsung ditengah-tengah masyarakat. Jadilah pelaku perubahan, sebagaimana Rasulullah menjadi pelaku perubahan bagi bangsa Quraisy. Sebab, dengan keberadaan Anda ditengah-tengah masyarakat langsung, Anda akan mampu melatih skill kepemimpinan. Ingat, pemimpin tidaklah harus orang yang sudah berusia tua, tapi pemimpin adalah mereka yang memiliki skill kepemimpinan, terutama bagaimana ia mampu memimpin dirinya sendiri. Inilah pentingnya dakwah bil hal.
Sahabat,
Setelah Anda memiliki wawasan yang luas dan skill yang dapat dihandalkan, maka selanjutnya bentengi diri Anda dengan,
Attitude yang baik, ahlakul hasanah.Ingatlah dengan perkataan Rasul, “Aku diutus untuk menyempurnakan ahlak”. Ahlak yang mana ? Ahlak kepada Allah, yaitu keimanan dan kepatuhan (islam, berserah diri). Orang yang beriman adalah orang yang memiliki optimisme dalam hidupnya. Mereka adalah manusia yang selalu memiliki harapan. Orang yang beriman tidak akan melakukan tindakan “bunuh diri” dengan alasan apapun, karena hal itu adalah dilarang. Orang yang beriman penuh harapan untuk kebaikan dimasa yang akan datang. Mengapa Anda shalat (yang muslim misalkan) ? Karena Anda berharap masuk jannah karena ridho-Nya, bukan ?
Ahlak berikutnya adalah kepada sesama manusia. Ada tata cara menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Ada tata cara dalam menyeru. Dan Rasulullah telah mencontohkannya. Maka, sebagai generasi penyeru kebenaran, contohlah bagaimana Rasul dan Sahabat pada waktu mereka menyerukan kebenaran kepada manusia yang lain. Hindari perkataan yang kotor, yang tidak pantas keluar dari mulut manusia. Disaat tidak puas dengan kepemimpinan nasional, maka sampaikan dengan cara yang santun dan berikanlah solusi, bukan dengan hujatan-hujatan yang tiada makna, yang ada hanyalah hujatan yang melahirkan dendam. Naudzubillah…..
Terakhir adalah ahlak terhadap diri sendiri. Inti dari ahlak terhadao diri sendiri adalah kita menyiapkan diri kita untuk menjadi manusia sebagaimana Rasul teladankan. Yang pada gilirannya, disaat kita mendapatkan estafet kepemimpinan nasional, kita telah siap, kita telah matang, matang dalam konsep dan mental. Tidak seperti mereka yang oportunis itu. Mereka mungkin siap secara konsep, tapi mereka tidak siap secara mental. Apa buktinya ? Ujung-ujungnya mereka bisa dibutakan dengan uang, korupsi semakin subur. Padaha, ketika menjadi aktifis, mereka menyukan diri sebagai orang yang anti korupsi. Haha, jadi malu …..
Sebagai kesimpulan,
Sahabat saya yang SuksesBahagia,
Siapkan diri untuk menjadi penerus estafet kepemimpinan Nasional. Tentu kita sangat gerah dengan kondisi kepemimpinan sekarang, bukan ?  Maka, milikilah wawasan yang luas dengan belajar dan membaca (lihat tulisan saya sebelunya: Take Time to READ), kuasai skill-nya, dan bingkai dengan ahlakul hasanah. Sehingga, pada saatnya kita siap menjadi pemimpin masa depan yang penuh harapan. Ingatlah, harapan itu masih ada, dan kita harus menjadi bagian dari harapan itu !!!
Soekarno pernah berkata,”Berikan aku sepuluh pemuda,  maka akan aku goncangkan dunia !” Tentu pemuda yang dimaksud adalah pemuda yang siap jiwa dan raganya, bukan pemuda yang tiada bernyawa.

Semoga bermanfaat,



Salam SuksesBahagia !!!

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Sabtu, 10 Desember 2011

Ayah, Anak, dan Burung Gagak



Di suatu sore hari pada suatu desa kecil, ada seorang yang sudah tua duduk bersama anak nya yang masih muda yang baru saja diwisuda akan kelulusannya pada perguruan tinggi ternama di kota itu. Mereka duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Saat mereka berbincang-bincang, datang seekor burung hinggap di ranting pohon. Si ayah lalu menuding jari ke arah burung itu sambil bertanya,

“Nak, apakah benda hitam itu?” “Burung gagak”, jawab si anak.
 
Ayah mengangguk-anggukkan kepala, namun tak berapa lama kemudian, ayah mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi, lalu menjawab dengan sedikit keras.

“Itu burung gagak, Ayah!”



Tetapi kemudian tak berapa lama si ayah kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Si  anak  merasa sedikit  bingung  dengan  pertanyaan  yang  sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat,

“BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.

Tidak  lama kemudian, sang  ayah sekali lagi mengajukan  pertanyaan  yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada tinggi dan kesal kepada sang ayah,

“Itu gagak, Ayah.” Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

“Ayah!!! Saya tak tahu Ayah paham atau tidak. Sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau saya katakan???? Itu burung gagak Ayah….., burung gagak”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Kemudian si ayah bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Kemudian si ayah keluar dengan sebuah buku di tangannya. Dia mengulurkan buku itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya. Ternyata buku tersebut adalah sebuah diary lama.Sambil menunjuk pada suatu lembaran pada buku si ayah berkata, “Coba kau baca apa yang pernah Ayah tulis di dalam diary ini,”.

Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut :

“Hari ini aku di halaman melayani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, 

“Ayah, apa itu?” Dan aku menjawab, “Burung gagak.”
 
Walau bagaimana pun, anakku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayangku, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga untuk anakku kelak.”

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara,

“Hari ini Ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak 5 kali, dan kau telah hilang kesabaran serta marah. Engkau telah dewasa anakku. Asahlah kesabaranmu. karena itu adalah salah satu kunci meraih suksesmu”

Lalu si anak seketika memerah karena malu. Ia bersimpuh di kedua kaki ayahnya meminta maaf atas apa yang telah ia perbuat.

Sahabat,

Dalam hidup, kesabaran adalah salah satu point penting untuk meraih kesuksesan. Anda ingin sukses dalam pendidikan, maka sabarlah dalam belajar. Cernalah pelajaran satu demi satu. Ingin sukses dalam berkarir, bersabarlah dalam menyumbangkan yang terbaik. Ingin sukses dalam kehidupan dunia agar berhadiahkan surga? maka bersabarlah dalam mentaati perintah Allah dan bersabar dalam beribadah kepada-Nya.

Semoga bermanfaat,

Salam SuksesBahagia !!!



Read more:
http://www.resensi.net

View Details

Rabu, 07 Desember 2011

Take time to READ, it’s the foundation of wisdom




Ayat pertama yang Allah turunkan kepada manusia (lewat Rasulullah SAW.) adalah “iqra’ bismirabbikalladzi khalaq”. Kenapa ya ? Sekarang, saya melihat, manusia malah enggan untuk membaca, bukan. Aha, mambaca buku ya males lah,,, apalagi bukunya tebal, tulisannya arial narrow 10, spasi satu, gag ada gambarnya,,, wuihhhh,,, males dah….
Nah, karena kadang membaca buku itu males, yuk kita membaca yang bukan buku saja. Seperti membaca orang lain, membaca alam, membaca kejadian, dan membaca pepohonan. Gimana tho ?



Penerapannya adalah dalam setiap waktu dan kejadian yang kita lewati. Disaat kita terkena musibah misalkan, kita tentu berfikir, kitalah orang yang paling menderita, paling sengsara, atau Tuhan tidak menyayangi kita, dan lain sebagainya. Cobalah “membaca” orang-orang yang jauh lebih menderita, lihatlah yang “di bawah” kita. Maka dengannya, kedewasaan kita akan terbentuk, dan kita akan mampu bersikap bijaksana.
Disaat kita terhambat dalam pencapaian sebuah impian, karena gagal misalkan, maka lihatlah pohon yang tumbuh subur menjulang tinggi. Pohon tidak pernah menyerah untuk mencapai yang tinggi, dan yang terdalam sekalipun. Yang dilakukannya adalah menguatkan diri dengan memperbanyak akar. Begitupun kita, kuatkan “akar” dalam diri, kuatkan prinsip, kuatkan keyakinan, kuatkan mental. Sehingga, kita akan “menjulang” tinggi menggapai impian dan harapan, kita akan terkuatkan. Maka, kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi hidup dan kehidupan.
Dan, kejadian-kejadian atau fenomena alam yang terjadi disekeliling kita, kita jadikan pelajaran berharga, kita “baca” dengan seksama. Bencana banjir atau tanah longsor sebagai contohnya, kita harus bisa membacanya sebagai sebuah peringatan dari Tuhan, apa maksud Tuhan memberikan itu semua. Adakah yang salah dengan kita ? Sungguh, kita akan semakin bijaksana ketika menyikapi kejadian alam disekeliling kita.
Terakhir, dan ini yang paling penting, kita harus bisa membaca diri kita sendiri. Lihatlah kelanjutan firman Allah dari ayat yang pertama turun, “khalaqal insaan mina’laq” (Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah). Ya, kita berasal dari segumpal darah yang kemudian ditiupkan ruh-Nya kepadanya. Ini adalah isyarat bahwa, kita bukanlah mahluk “sembarangan”, kita adalah mahluk pilihan yang disiapkan Tuhan untuk mengemban amanah-amanah yang telah ditolak oleh gunung dan mahluk yang lainnya. Artinya, kita janganlah menjadi manusia pecundang, kitalah pemenang.
Dengan kemampuan membaca diri sebagai mahluk yang istimewa, yang memiliki peran dan tanggungjawab sebagai khalifah dan hamba-Nya, maka kita akan lebih bijak lagi dalam mengoptimalkan hidup di dunia yang fana ini, karena yakin alam akhiratlah alam yang baqa.
Maka sahabat saya yang SuksesBahagia,
Sediakan waktu untuk MEMBACA. Karena membaca adalah fondasi kita untuk bersikap bijak dalam kehidupan ini.

Semoga bermanfaat,



Salam SuksesBahagia !!!

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Selasa, 06 Desember 2011

Terjebak dalam Tempurung




Diceritakan, ada seorang pemuda kampung (dan benar-benar kampungan), diajak rekreasi ke pantai oleh saudaranya dari kota. Kebetulan pemuda tersebut belum pernah sama sekali melihat ombak. Maka, tatkala ia melihat ombak, ia berteriak, “Wah,, luar biasa, ada air yang bisa bergerak dan berlari. Akan aku tunjukkan ke warga kampung nanti sepulang dari sini !”
Setelah teriak, ia mengambil botol besar dan mengisinya dengan air laut, yang ia anggap sebagai air yang bisa bergerak dan berlari.

Sepulang ke kampungnya, ia mengumpulkan orang-orang di depan rumahnya. Ia berkata,
”Wahai warga kampungku, lihatlah, aku membawa ke hadapan kalian, air ajaib, air yang bisa bergerak dan berlari.” Kemudian ia tuangkan air laut yang ia bawa ke dalam ember besar. Namun apa yang terjadi ? Ya, tentu saja air itu tetap diam, tidak bergerak apalagi sampai berlarian. Warga pun pulang dengan kekecewaan dan ada sebagian yang mencemooh pemuda itu, yang hanya mengada-ada saja.

Sahabat,

Apa hikmahnya bagi kita ?

“Jangan sok pintar, jangan sok tahu !”

“Belajar, belajar, dan belajar !”

“Tambah wawasan !”

“Keluar dari bawah tempurung (jangan seperti katak yang ada di dalam tempurung) !”

“Keluar dari zona nyaman (comfort zone) kehidupan !”

“Lakukan perubahan meski sedikit, dengan syarat berkelanjutan !”

Semoga bermanfaat !!!




Salam SuksesBahagia !!!

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Senin, 05 Desember 2011

BIRRUL WALIDAIN : Investasi Jangka Panjang




Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhuma kama rabbayanisghira… (amiin).

Berdesir hatiku ketika mendengar seorang anak kecil, sepertinya masih balita, dengan lancarnya mengumandangkan doa pengabdian untuk orang tua, maghrib malam kemarin. Kebetulan, anak kecil itu berada persis dibelakangku.
Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira, jika anak-anak kita kelak selalu mendoakan keselamatan, ampunan, dan kasih sayang dari-Nya. Bukankah doa anak-anak shaleh yang akan selalu menemani kita, disaat kita sudah tidak lagi hidup di dunia ini ? Doanya tidak akan terputus.
Tentu kita mengharap seperti itu, bukan ? Maka, yang harus kita lakukan adalah dengan “mengevaluasi” diri terutama berkenaan dengan birrul walidain.
Sudahkah kita mendoakan orang tua kita hari ini, baik yang sudah almarhum atau yang masih hidup ?
Sudahkah kita menemuinya bulan ini, ketika kita hidup berjauhan dengan mereka ?
Sudahkah kita memeluk mesra mereka minggu ini ?
Sudahkah kita mengabari mereka, kalau kita selalu dalam keadaan sukses dan bahagia, sebagai dampak kedahsyatan doa mereka ?
Sudahkah kita memohon doa restu dari mereka ?
Sudahkah kita memohon maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan kepada mereka, yang menyebabkan mereka menitikkan air mata ?
Sahabatku,
Air mata orang tua yang ridho dengan kita adalah rahmat. Maka biarkan air mata itu terurai karena ke-baktian dan keshalehan kita kepadanya.
Namun air mata orang tua yang keluar karena sikap kasar kita, karena perbuatan durhaka kita, itu adalah murka. Maka jangan bairkan air mata mereka keluar karena kedurhakaan kita.
Sahabatku,
Sesungguhnya, disaat kita berbuat baik dan berbakti kepada orang tua, berarti kita sedang menyiapkan doa-doa luar biasa dari anak-anak kita kelak.
Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sejak kecil.
Allahu Akbar, anak kecil itu menyebutkan arti dari doa yang dipanjatkannya, dan akupun menangis ….

Salam SuksesBahagia !!!

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Kamis, 01 Desember 2011

Ustadz “BUDEG” (Tuna Rungu)



Ada seorang Ustadz di kampung saya, terkenal dengan sebutan Ustadz Budeg (atau Ustadz yang tuna rungu). Entah mulai kapan sebutan tersebut tersandang olehnya. Yang jelas, sampai saat ini, orang-orang selalu memanggilnya demikian, “ustadz budeg.”
Usut punya usut, ternyata hal itu terjadi tatkala ada seorang wanita, yang pergi menemui ustadz untuk meminta sebuah nasehat. Wanita itu sedang memiliki masalah besar dalam hidupnya, dimadu (suaminya melakukan polygamy). Nah, pada saat wanita itu bercerita panjang lebar, tanpa sengaja ia buang angin alias kentut, sampai terdengar keras (mungkin semalam ia habis makan ubi jalar, hihihihi). Kontan memerahlah wajah wanita itu. Ia sangat malu, karena saat itu ia berada di depan ustadz terhormat.
Melihat wajah yang terus memerah, sang ustadz dengan bijaknya berkata, “Maaf ibu, coba diulangi lagi ceritanya, kebetulan tadi malam telinga saya kemasukan serangga, sehingga tidak bisa mendengar dengan jelas. Suaranya agak keras sedikit ya bu, biar saya bisa mendengarnya.”
Srrrrr,,, wajah yang tadinya memerah, lambat laun kembali normal. “Wah, ternyata ustadznya budeg, berarti ia tidak mendengar suara kentutku tadi, Alhamdulillah,,,” wanita itu berkata dalam hatinya. Maka kemudian, wanita itu pun mengulang kembali permasalahannya.
Sepulang dari rumah ustadz, dasar ya perempuan, wanita itu bercerita kepada tetangganya, bahwa ustadz itu budeg. Lambat laun, berita itupun tersebar luas, bahkan sampai ke kampung sebelah.
Sahabat saya yang SuksesBahagia,
Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, dan ketentraman hidup akan dengan mudah kita raih jika kita mampu menjadikan telinga kita ini “budeg” atau tuli. Mengapa ? Karena, kadang “suara-suara” diluar membuat kita merasa khawatir, ragu-ragu, takut, was-was, marah, yang pada akhirnya kita tidak bisa menikmati kehidupan ini. Oleh karena itu, mulai saat ini, kita belajar untuk “men-tuli” kan telinga dari :
Hal-hal buruk yang dimiliki orang lain. Sebagaimana Ustadz tadi, ia men-tulikan diri dari keburukan wanita yang sedang “curhat” kepadanya. Dengannya, kita akan terlepas dari syahwat gossip. Hum,, kebanyakan manusia, ketika menemukan keburukan seseorang, maka akan begitu semangatnya menceritakan kepada orang lain. Dengan kemampuan menahan syahwat gossip, kita akan terbebas dari dosa dan kegelisahan orang lain. Selanjutnya adalah kita tuli-kan telinga kita dari :
Hal-hal negatif yang orang tujukan kepada kita. Karena disaat kita “mendengarkan” ocehan negatif orang tentang kita, kecenderungannya adalah emosi yang meninggi. Kita akan begitu semangatnya melakukan serangan balik, hingga pertikaian secara fisik. Apakah hal ini membuat tentramnya kehidupan ? Tentu tidak, bukan ?
Kecenderungan lain adalah kita akan menjadi pesimis dengan diri kita dan masa depan. Sebagai contoh, misalkan orang menyebut diri kita sebagai orang yang lambat dalam belajar atau menangkap perintah atasan di tempat kerja. Ketika kita “membuka” telinga dengan hal itu, maka kita akan merasa minder yang pada akhirnya akan menjadikan hidup terasa tidak punya arti. Pesimis dengan masa depan.
Jarang saya menemukan orang yang ketika mendengar hal-hal negatif tentang dirinya dari orang lain, ia menjadi termotivasi untuk membuktikan bahwa dirinya tidak seperti yang orang lain sangkakan. Jarang sekali !!! Oleh karena itu, mari kita tuli-kan diri dari hal-hal yang akan membuat kita tidak hidup bahagia. Tidak hanya untuk prasangka negatif,
Prasangka positif yang ditujukan orang kepada kita, kita-pun harus berusaha untuk tidak mendengarnya (men-tuli-kan diri). Mengapa ? Ada sebuah ke-egoan diri, disaat orang berkata mengenai hal positif tentang diri kita. Syahwat kesombongan adakalanya tumbuh menyubur jika kita tidak bisa mengendalikannya. Disaat syahwat kesombongan meracuni, kita akan terjebak oleh sebuah kondisi “merasa puas dengan saat ini” dan “melupakan Tuhan”. Hal ini sangat berbahaya untuk kualitas hidup bahagia. Karena jika tidak bisa mensyukuri nikmat Tuhan (atas hal positif yang telah kita raih), siksa-Nya itu amatlah pedih. Naudzubillah … Maka, lebih baik kita tuli-kan telinga untuk prasangka positif orang.
Sahabat saya yang SuksesBahagia,
Sebagai penutup tulisan ini, yuk, kita kenali lebih dalam siapa diri kita sendiri. Apa kelemahan dan kelebihan kita. Biarlah kita dan Tuhan yang mengetahuinya. Dengannya, kita akan terselamatkan, kita akan mendapatkan kebahagiaan, ketenangan, ketentraman, dan kemuliaan dalam menjalani kehidupan ini. Jangan sampai orang lain lebih mengetahui, siapa diri kita sebenarnya. Hal ini akan menyebabkan hidup kita, dikendalikan oleh orang lain.


Salam SuksesBahagia !!!


KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details
 

Labels

Popular Posts