• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Sabtu, 24 Desember 2011

Konsep Hidup SuksesBahagia




Banyak orang yang bertanya kepada saya, apa makna dan hakikat dari hidup SuksesBahagia. Banyak juga orang yang mendefinisikan atau menterjemahkan sukses dengan “dimilikinya” harta, tahta, kata, dan cinta. Hum, tidak salah pen-definisian itu, artinya sah-sah saja. Karena, satu sisi, memang begitulah kenyataannya.
Sahabat,
Ada sisi lain (dan saya yakin, akan banyak sisi-sisi lainnya) dari konsep SuksesBahagiaitu. Disini, saya mencoba membuka sisi SuksesBahagialainnya. Dari sekian lama saya mencoba “menafsirkan” dan membuat konsep SuksesBahagia, baru beberapa waktu yang lalu saya menemukannya.
Aha, apakah itu ?



Lihatlah firman Allah SWT :
Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(Q.S. Al-Quran [6] : 162-163)
Ayat di atas, mengisyaratkan konsep hidup SuksesBahagia, yaitu terbebasnya diri dari ketersandaran kepada selain Tuhan. Konsep hidup SuksesBahagia adalah hidup yang menjadikan kehidupannya untuk Tuhan. Konsep hidup SuksesBahagia adalah hidup yang terbebas dari tuhan selain Tuhan (t kecil dan T besar).
Sesungguhnya shalatku hanya untuk Allah. Ada diantara kita, menjadikan shalatnya untuk dunia. Misalkan, agar dilihat sebagai orang ahli surga, orang paling alim, dan orang yang paling shaleh. Nah, ketika ada debu-debu “tuhan” lain seperti itu, maka kehidupannya tidaklah akan menemukan kesuksesan apalagi kebahagiaan di hari akhir kelak. Ia akan “tersiksa” ketika orang lain tidak menganggapnya seperti yang ia harapkan. Maka, shalatlah hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.
Oh ya, sebagai catatan, shalat adalah bentuk ibadah mahdah, yaitu ibadah yang langsung “berkomunikasi” dengan Tuhan. Setiap agama memiliki caranya masing-masing dalam hal “berkomunikasi” dengan Tuhan. Oleh karena itu, bagi Anda yang non-muslim, konsep ini bisa disesuaikan dengan cara Anda dalam “berkomunikasi” dengan Tuhan. Lalu,
Ibadahku hanya untuk Allah. Ibadah dalam konteks yang luas.  Kerja di kantor itu ibadah. Kerja di rumah, memiliki usaha sendiri, itu juga ibadah. Menjadi suami, ibadah besar. Menjadi ibu rumah tangga-pun, ibadah yang sangat besar. Nah, janganlah ibadah-ibadah itu kita rusak dengan niatan duniawi belaka. Misalkan, sebagai karyawan di kantoran, kita hanya terobsesi untuk “uang belaka”, atau pujian dari atasan, sungguh, kesuksesan dan kebagahagiaan hidup sebagai seorang karyawan tidak akan diraih. Mengapa ? Karena, belum tentu obsesi itu akan kita raih, bisa jadi, bukan pujian yang kita dapatkan, tetapi celaan yang sangat menyakitkan, rasa sakit itu, bukanlah ciri orang yang SuksesBahagia.
Masih ingat hadist no 1 di Hadist Arba’in kan ? Segalanya tergantung niat ! Ketika kita niatkan untuk akhirat (mengharap ridho Allah), maka keuntungan dunia dan akhirat kita dapatkan. Namun, ketika kita niatkan hanya untuk dunia, akhirat sudah pasti tidak akan kita dapatkan, sementara “pendapatan” dunia pun belum tentu kita raih juga. Maka, ibadahlah hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Selanjutnya,
Hidup dan matiku hanya untuk Allah. Ini adalah misi hidup sesungguhnya. Dan dengan misi inilah, mengapa manusia mahluk paling mulia bila dibandingkan dengan mahluk lain ciptaan Allah. Inilah SuksesBahagia yang sesungguhnya. Inilah kemerdekaan diri dari selain Allah. Lihatlah manusia yang masih menuhankan selain Allah, Tuhan Semesta Alam. Hidupnya jauh dari ketenangan, kebahagiaan, atau kesuksesan.
Bisa saja tuhan mereka itu adalah hartanya, sehingga merasa khawatir jika hartanya berkurang atau ada yang mengambilnya. Enggan sekali untuk bersedekah, berinfak, atau berzakat.
Bisa juga tuhan mereka adalah tahta, sehingga berbagai cara ia tempuh (meskipun cara itu “diharamkan”) untuk mendapatkan posisi jabatan atau pekerjaan yang “mapan” dalam paradigmanya. Lihatlah, berapa banyak orang melakukan praktek suap hanya demi mejadi seorang PNS (misalkan). Ah, mereka telah menuhankan tahta atau jabatan atau pekerjaan dalam hidupnya.
Atau kata dan cinta juga mereka jadikan sebagai tuhan dalam hidup ini. Mereka sangat berambisi untuk menjadi orang yang terpandang dan popular di tengah masyarakat. Mereka gila kehormatan.
Apakah manusia seperti itu akan merasakan hidup SuksesBahagia ? Saya jamin TIDAK !!! Karena hatinya penuh dengan nafsu duniawi belaka. Kalaupun mereka merasakannya, itu adalah fatamorgana kehidupan belaka.
Sahabat,
Keberserahan diri hanya kepada Allah adalah landasan konsep hidup SuksesBahagia.Eitts, jangan salah tafsir juga ya, “keberserahan” bukanlah pasrah, tapi ia adalah tawakal sebagaimana tawakalnya Nabi dan Rasul Allah dalam menjalani misi sebagai khalifah, hamba, dan pen-dakwah. Begitu juga dengan kita. Misi kita sama, yaitu sebagai khalifah, hamba, dan pen-dakwah. Ya, kita adalah wakil Allah, kita adalah hamba yang harus beribadah kepada-Nya, dan kita sebagai penyeru kepada kebaikan.
Bagaimana agar kita bisa memiliki dan mengaplikasikan konsep hidup SuksesBahagia, yaitu yang menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya hanya untuk Allah ?
Tunggu tulisan saya berikutnya ya ….
[to be continue]


Salam SuksesBahagia !!!

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Kamis, 22 Desember 2011

Ibuku, Malaikatku !!!


Suatu ketika seorang bayi siap untuk dilahirkan didunia

Menjelang diturunkan dia bertanya kepada tuhan."Para malaikat disini mengatakan bahwa besok engkau akan mengirimku ke dunia,tetapi bagaimana cara saya hidup disana,saya begitu kecil dan lemah."kata si bayi.

Tuhan menjawab."aku telah memilih satu malaikat untukmu,ia akan menjaga dan mengasihimu."

"Tetapi disurga,apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa,ini cukup bagi saya untuk bahagia."demikian kata si bayi.



Tuhan pun menjawab."malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari,dan kamu akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih bahagia."

Si bayi pun bertanya kembali,"Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?"

Sekali lagi Tuhan menjawab."Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo'a."

Si bayi pun masih belum puas,ia pun bertanya lagi."Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat.siapa yang akan melindungi saya?"

Dengan penuh kesabaran Tuhan pun menjawab."Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwanya sekalipun."

Si bayi pun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya."Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi."

Dan tuhan pun menjawab."Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku,dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku walaupun sesungguhnya Aku selalu berada di sisimu."

Saat itu surga begitu tenangnya,sehingga suara dari bumi dapat terdengar dan sang anak dengan lirih bertanya."Tuhan,jika saya harus pergi sekarang,bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat dirumahku nanti ??"

Tuhanpun menjawab,"Kamu dapat memanggil malaikatmu..IBU.."
Kenanglah ibu yang menyayangimu

Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi...
Ingatlah engkau ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu

Ingatlah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu?..dan ingatlah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu dirumah tempat kau dilahirkan

Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu

Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada......

Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita

Tak ada lagi senyuman indah....tanda bahagia.

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya,

Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya

Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu disetiap hembusan nafasnya

Kembalilah segera....peluklah ibu yang selalu menyayangimu..

Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik diakhir hayatnya

Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya...





KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia



Source: http://www.zona-remaja.com

View Details

Ibu ...

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=h2dz5atF4Ig&w=420&h=315]

View Details

Tuhan, Tolonglah Aku … !




Pada suatu hari, terjadi kecelakaan laut, yaitu tenggelamnya sebuah kapal feri. Diberitakan, hampir separuh penumpang dinyatakan tewas.
Pada saat regu penyelamat menemukan salah satu penumpang yang masih selamat dan menawarkan bantuan, penumpang yang hampir tenggelam itu berkata, “Tenang, Tuhan akan menyelamatkanku.” Regu penyelamat itupun pergi. Datanglah regu penyelamat ke dua dan menawarkan bantuan, lagi-lagi, ia berkata, “Tenang, Tuhan akan menyelamatkanku dari kecelakaan ini. Aku pasti hidup.” Akhirnya, regu penyelamat kedua-pun meninggalkan penumpang yang hampir tenggelam.
Waktu terus berjalan. Kekuatan penumpang itu untuk menahan tubuhnya tetap mengapung di atas air berkurang, melemah, hingga akhirnya ia tenggelam dan meninggal.




Sesampainya di alam barzah, penumpang itu mengadu kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa Engkau tidak menolongku disaat aku hampir tenggelam ?”
Tuhan menjawab, “Bukankah Aku telah mengirimmu dua regu penyelamat dan kau menolaknya ?”
@@@@@#####!!!!!
Sahabat,
Tangan-tangan Tuhan itu ada dimana-mana. Bantuan Tuhan itu selalu ada. Namun, janganlah kita terjebak oleh sebuah dogma tanpa berfikir realistis.
Tuhan itu Maha Kuasa. Tapi “kekuasaan-Nya” Ia jadikan pelajaran buat manusia, dengan tujuan manusia bisa memiliki dan mengaplikasikan sifat-sifat ketuhanan itu. Sebagai contoh, ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan tidak langsung menciptakan manusia tanpa melalui tahapan-tahapan tertentu (kesuali Adam dan Hawa). Pasti proses penciptaan manusia diawali dengan terbuahinya sel telur oleh sperma hingga menjadi janin di dalam rahim seorang ibu.
Apa pelajarannya buat kita ? Tuhan mengajarkan kita untuk hidup dalam sebuah orientasi PROSES kehidupan. Coba Anda rasakan, menyaksikan langsung pertandingan sepak bola, atau cukup dengan melihat skor akhir dari pertandingan itu ? Tentu lebih “berasa” melihat langsung pertandingannya bukan ?
Itulah kehidupan kita di dunia ini, ia adalah sebuah proses yang harus kita tempuh dalam mewujudkan kemenangan yang hakiki. Maka, nikmatilah proses kehidupan ini, jalani, dan mainkan dengan indah serta bersinergi dengan ciptaan Tuhan yang lainnya.
Sahabat,
Kembali ke cerita di awal, Tuhan sangat bisa untuk “menyelamatkan” penumpang yang hampir tenggelam secara langsung. Tapi bagaimana Dia memberikan kesadaran keimanan, kalaulah ada proses Tuhan dalam memberikan keselamatan kepada penumpang itu, lewat regu penyelamat yang Dia kirimkan. Tapi sayang, penumpang itu “menolak” bantuan Tuhan.

Semoga bermanfaat,

Salam SuksesBahagia !!!


KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Rabu, 21 Desember 2011

Andrie Wongso: Kelinci Si Penakut


View Details

Selasa, 20 Desember 2011

Menemui Allah



Pada postingan kali ini, saya sampaikan tulisan Ustadz Hasan Basri Tanjung, MA. Sangat menyentuh kalbu dan mencerahkan ke-tauhid-an kita. Semoga, iman yang telah kita ikrarkan dengan kalimat syahadah, akan terus tercancap kuat sampai kematian tiba. Selamat membaca ...

Menemui Allah

Oleh Ustadz Hasan Basri Tanjung, MA

REPUBLIKA.CO.ID, Bahasan ini sebenarnya telah masuk ranah tasawuf dan hanya bisa dijelaskan dengan baik oleh ahli tasawuf (sufi) yang mencapai maqam (tingkatan spritual)  mahabbah (cinta Allah) dan ma’rifah (mengenal Allah). Dalam kajian Tauhid, selalu ditegaskan bahwa Allah itu esa, tidak beranak dan diperanakkan, tak bergantung pada apa pun jua. Dia adalah Zat Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan sesuatu pun dan tidak pula ada yang menyerupainya. (QS.112:1-4,3:97,42:11).



Selain itu, disebutkan pula bahwa Allah bersemayam di atas Arasy yakni tempat yang tinggi dimana manusia tak mampu memikirkannya apalagi menghampirinya (QS.10:3,13:2,20:5,25:5). Meskipun pada sisi lain, bahwa Dia lebih dekat dari pada urat leher kita sendiri, tapi seringkali tak bisa merasakan kehadirannya. (QS.2:186, 50:16). Lalu, bagaimana cara menemui Allah ?

Salah satu jalan untuk menemui Allah SWT adalah mengunjungi Rumah-Nya, Baitullah. Meskipun,  boleh jadi Dia tengah tak ada atau tak berkenan untuk membuka pintu Rumah-Nya. Kalau pun bisa menemui-Nya, tentu bersifat personal dan belum tentu berdampak pada relasi sosial (pemberdayaan umat).

Sementara, menemui-Nya saat bersemayam di atas Arasy, tentu jalan yang tak mungkin dilalui oleh manusia biasa.  Lalu bagaimana cara menemui-Nya yang dampaknya bukan hanya individual (hablum minallah), tapi juga sosial (hablum minannas) ?

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dalam buku 40 Hadits Qudsi Pilihan, (Lentera Hati, 2010), dinukil sebuah Hadits Qudsi (Hadits yang redaksinya dari Rasulullah SAW tapi maknanya dari Allah SWT.) dari Abu Hurairah Ra. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW. Bersabda : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan berfirman pada Hari Kiamat :

Wahai putra putri Adam (Ibnu Adam), Aku sakit, tetapi mengapa engkau tak mengunjungi-Ku ? Ibnu Adam bertanya : ”Yaa Rabb, bagaimana aku mengunjungi-Mu sedang Engkau adalah Tuhan seru sekalian alam ?”. Allah berfirman : “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan sakit, mengapa engkau tidak menjenguknya ? Tidakkah engkau tahu, sekiranya engkau menjenguknya, niscaya engkau akan menemukan Aku di sana”.

Wahai putra putri Adam, Aku minta makanan kepadamu, tapi mengapa engkau tidak memberi-Ku makan ?”. Ibnu Adam pun bertanya : “Yaa Rabb, bagaimana aku memberi-Mu makan, sedang engkau adalah Tuhan seru sekalian alam ?”. Allah berfirman : “Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si Fulan telah meminta makanan kepadamu, mengapa engkau tidak memberinya makan ? Tidakkah engkau tahu, seandainya engkau memberinya makan, niscaya engkau akan mendapatkan itu (ganjarannya) di sisiku ?”.

Wahai putra putri Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak memberi-Ku minum ? Lalu Ibnu Adam bertanya : “Yaa Rabb, bagaimana aku memberi-Mu minum, sedangkan Engkau adalah Tuhan seru sekalian Alam”?. Allah berfirman : “Tidakkah engkau tahu bahwa Hamba-Ku si Fulan telah minta minum kepadamu, tetapi mengapa engkau tidak memberinya minum ? Seandainya engkau memberinya minum, niscaya engkau akan mendapatkan itu (ganjarannya) di sisi-Ku.”


Jika kita simak Hadits di atas, pesan pertama sebagai jalan menemui Allah adalah membesuk orang sakit. Boleh jadi, karena orang sakit sedang berada di persimpangan jalan, yakni antara hidup dan mati. Seorang yang sakit keras atau kritis, sedemikian dekat kepada Allah. Sejatinya, ia berhak atas Muslim yang lain untuk dijenguk dan wajib bagi seorang Muslim untuk menjeguknya (HR. Muslim).

Mengunjungi orang sakit tidak sekedar lepasnya kewajiban, tapi justru dapat mengeratkan persaudaraan dan keharmonisan sosial. Hubungan yang disharmoni seringkali terbangun kembali setelah mengunjungi yang sakit. Doa yang dipanjatkan dan kegembiraan hatinya bisa mempercepat kesembuhan.

Jika kita ingin menemui Allah, maka kunjungilah orang-orang sakit yang bersandar dan bergantung penuh hanya kepada Allah SWT karena Allah pun senantiasa berada di sisi mereka yang sabar akan derita yang menimpa. Dalam kondisi demikian, mereka seringkali diabaikan dan terlupakan. Kita terkadang kaget dan menyesali, setelah mendapat kabar kematian si sakit sementara belum sempat menjenguknya.

Pesan kedua dan ketiga Hadits di atas adalah memberi makan dan minum. Kaum dhuafa dan mustdh’afin (anak yatim, miskin,  terlantar, tertawan, hidup berkalang tanah beratap langit, kekurangan gizi dan kelaparan) yang jumlahnya semakin bertambah adalah hamba-hamba yang dikasihi Allah. Mereka sengaja dihadirkan oleh Allah untuk menguji keimanan dan komitmen sosial kita sekaligus sebagai jalan menemui Allah SWT.

Konon, Nabi Musa As. pernah bertanya kepada Allah, dimana ia bisa menemui-Nya. Allah menjawab : “Temuilah Aku di tengah orang yang hancur hatinya”. Karena itulah, Allah SWT menyuruh kita untuk memberi makan orang yatim, miskin dan yang tertawan hidupnya, bahkan dinilai sebagai pendusta agama jika tidak menyantuni mereka (QS.2:177,90:14-16,93:9-10,107:3).

Justru dengan jalan yang tidak mudah ini, kita bisa menemui Allah dengan rasa bahagia, tenang dan nikmat baik dunia maupun akhirat. Tapi itu semua bisa diraih hanya dengan ikhlas dalam beramal shaleh dan tidak menyekutukan-Nya. (QS.18:110).

Demikianlah Islam mengajarkan ibadah yang sebenarnya, yakni ibadah yang berdimensi individual dan sosial sekaligus. “Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah agar menjadi kaya. Jangan menunggu sukses baru bersyukur tapi bersyukurlah agar bertambah sukses”, demikian orang bijak berkata.

Selagi ada kesempatan dan umur untuk melakukan kebaikan, maka lakukan sekarang. Jangan menunggu kaya atau sukses. Boleh jadi belum sempat kaya atau sukses ajal telah tiba. Menyesal kemudian tiada berguna.  (QS.63:10-11). Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah pada saat kita juga membutuhkan. Dan, jika mampu melakukannya, luar biasa nikmatnya dan Allah pun segera memberi ganti yang berlipat dan tidak terkira-kira (laa yahtasib). Insya Allah !


Salam SuksesBahagia !!!


KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

View Details
 

Labels

Popular Posts