• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Jumat, 17 Februari 2012

Yang Kita Anggap Kecil ...



Anda pernah tersandung kakinya ketika berjalan, ya kan? Biasanya, kita tersandung oleh benda-benda yang kecil (batu kecil) atau benda-benda yang besar (batu besar, tembok, dinding)? Dari pengalaman, saya biasanya tersandung oleh benda-benda kecil, batu kecil. Begitu juga dengan Anda, ya kan?

Ah, saya jadi berpikir, ternyata kita harus hati-hati dengan sesuatu yang 'kecil' atau kita anggap 'kecil'. Karena, bisa mengakibatkan sesuatu yang 'besar.' Ketika kita tersandung batu kecil, misalkan, lalu kita jatuh dan berdarah, bukankah itu sesuatu yang 'besar' yang disebabkan oleh sesuatu yang 'kecil'?


Dalam menjalani hidup dan kehidupan, hati-hatilah dengan dosa-dosa kecil atau dosa yang kita anggap kecil. Karena, itu akan menghadirkan dosa yang besar ketika kita tidak bisa 'merawatnya.' Ya, merawatnya dengan segera membersihkannya dengan taubat, taubatan nasuha.

Dan, jangan menganggap sepele sesuatu yang kecil. Adakalanya, sesuatu yang kecil itulah yang bisa mengangkat harkat dan martabat kita dihadapan Allah SWT. Seyum ramah kesetiap orang yang kita jumpai, menyapa dengan santun, atau sekedar mengucapkan terima kasih ketika ada orang yang membantu kita, adalah hal-hal kecil yang justru akan menghadirkan kecintaan dari Allah SWT. Bahkan, sebenarnya itu adalah sesuatu yang besar nilainya.

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Sepertinya benar pepatah tersebut. Dosa-dosa kecil yang kita perbuat, pada akhirnya akan menjadi dosa besar yang mendatangkan murka-Nya. Maka, segeralah bertaubat dan jangan anggap remeh. Begitu juga dengan setiap amalan hasanah yang kecil, istiqamahkan dalam melakukannya, karena ia adalah kunci menuju surga-Nya.

Kebahagiaan atau kesusahan, ditentukan oleh sesuatu yang kecil, atau yang kita anggap kecil. Maka, berhati-hatilah !!!



Salam SuksesBahagia !!!

Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia


gambar: dhammacitta.org

View Details

Kamis, 16 Februari 2012

Tindakan JITU Menuju Hidup Lebih Bermakna



Terlihat kelelahan yang begitu menekan wajah pak tua itu. Disampingnya, gerobak tua yang penuh dengan barang-barang bekas. Ya, pak tua sedang bersistirahat, bersandar dibatang pohon di pinggir jalan, tepat dimana saya melewatinya. Topi lusuhnya ia gunakan untuk menghasilkan tiupan angin segar dibadannya, ia kipaskan diri.

Setelah melewati jauh pak tua, saya merasa masygul, mangapa di usia tua seperti itu, ia harus bersusah payah memeras keringat? Kemanakah anak-anaknya? Hhhh, saya merasa berdosa, karena belum bisa berbuat sesuatu untuk pak tua itu, selain perasaan empathy yang mendalam. ‘Rab, kuatkan pak tua itu!’ hanya itu yang bisa saya panjatkan.
Namun, secepat kilat saya ‘belajar’ dari pak tua. Ya, entah bagaimana, tiba-tiba saya terinspirasi oleh pak tua yang sedang beristirahat melepas lelah. Istirahat!!! Benar, sepertinya kita harus melakukan yang namanya istirahat, untuk melepas kelelahan menjalani hidup dan kehidupan. Dengannya, sebagaimana pak tua, kita akan kembali ‘segar’ penuh tenaga yang pada akhirnya dalam proses menjalani hidup, akan lebih ‘berasa.’ Apa yang dilakukan pada saat istirahat?

Istirahat bukanlah menghentikan kehidupan. Istirahat berarti kita meluangkan waktu, untuk mengevaluasi waktu kehidupan yang telah digunakan dan kemudian menata untuk masa yang akan datang. Istirahat yang dilakukan pak tua-pun, seyogyanya adalah bentuk evaluasi atas raihan barang-barang bekasnya, berfikir kemana akan dijualnya, dan setelah terjual akan digunakan untuk apa uang pendapatannya itu.

Oleh karena itu, proses istirahat dalam kehidupan, setidaknya harus memenuhi beberapa tidakan. Tindakan-tindakan itu saya beri nama, Tindakan JITU. Apakah Tidakan JITU itu?

Kita sudah mengenal yang namanya rumus SMART, bukan? Ya, SMART itu singkatan dari Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Time-bound yang merupakan rumus goal setting. Dalam prakteknya, saya memandang rumus SMART masih ada celah kekurangannya, sehingga perlu adanya penyempurnaan lebih lanjut. Yang saya dapatkan dari SMART hanyalah pengakuan kekuatan diri dengan melupakan Kemahaan Tuhan. Keinginan diri dengan tidak melakukan sinkronisasi dengan kehendak Tuhan. Sehingga ada kecenderungan, diri sendiri adalah pemegang mutlak kehidupan, dan ada pemaksaan kehidupan untuk seperti yang diinginkan. Ini bahaya! Mengapa, bagaimanapun kuatnya keinginan dan impian kita, Tuhanlah yang memiliki kekuasaan mutlak untuk menentukan, kehidupan seperti apa yang ‘layak’ bagi kita.

Maka, Tindakan JITU mencoba memberikan solusi atas gap yang terjadi antara keinginan kita dengan kehendak Tuhan. Sekarang, mari kita ‘bedah’ apa Tindakan JITU itu.

Jelaskan dengan jelas dan spesifik, apa yang kita inginkan. Persis point pertama rumus SMART, specific, maka tindakan JITU yang pertama-pun adalah menemukan, menyebutkan, dan menuliskan dengan Jelas dan spesifik apa yang diinginkan.

Seperti ketika kita akan bepergian ke Eropa, maka sebutkan pula negara Eropa mana yang akan dikunjungi. Telah jelas memang, bahwa kita akan bepergian ke Eropa. Namun belum spesifik ketika kita belum menyebutkan, negara Eropa mana yang akan didatanginya.

Begitupun dalam hidup ini. Mungkin kita telah menentukan tujuan kehidupan. Misalkan hidup bahagia. Telah jelas memang, bahwa kita ingin bahagia, namun belum spesifik, bahagia seperti apa, bahagia dalam hal apa? Maka istirahatlah, lakukan tindakan menjelaskan keinginan capaian hidup dan spesifikkanlah.

Informasikan apa yang kita inginkan. Tindakan ke dua dari JITU adalah menginformasikan kepada diri sendiri dan kepada Tuhan, apa yang diinginkan. Menginformasikan kepada diri sendiri merupakan upaya internalisasi keinginan. Katakan pada ‘diri’ kita. Yakinkah bahwa ‘diri’ kita benar-benar yakin atas apa yang diinginkan. Caranya? Lakukan self talk! Lakukan bicara ke dalam ketika istirahat. Tanyakan berkali-kali, benarkah ‘diri’ kita menginginkan apa yang telah ditetapkan.

Kemudian menginformasikannya kepada Tuhan. Dengan apa? Dengan DOA. Ya, doa adalah senjata utama untuk sebuah kesuksesan. ‘Kan Tuhan Maha Mengetahui apa yang kita inginkan?’ begitu orang-orang biasa berkilah. Benar! Tuhan memang Maha Mengetahui segala apapun. Namun, Tuhan akan lebih ‘senang’ ketika manusia memintanya. Inilah yang kemudian saya sebut sebagai bentuk sinkronisasi keinginan dengan Tuhan. Maka, sampaikan pada Tuhan lewat doa-doa keinginan-keinginan kita. Hal ini tidak disebutkan dalam konsep pengembangan diri orang-orang kapitalis dan orientalis.

Terampilkan diri Kita seperti yang diinginkan. Tindakan ketiga adalah menyiapkan diri, terampilkan diri, seperti yang diinginkan. Maksudnya, ketika kita ingin hidup bahagia dengan memiliki pasangan hidup yang sholeh atau sholehah (misalkan), maka, sudah pasti kita menjadikan diri kita untuk ‘layak’ mendapatkan pasangan seperti itu. Mengapa? Karena, tentu ‘calon’ pasangan-pasangan kita-pun, memiliki kriteria yang sama seperti kita.

Begitu juga dengan Tuhan. Doa kita pasti terkabulkan. Namun Tuhan akan melihat, kapan kita ‘layak’ mendapatkan dan meraih segala asa dan doa. Seperti anak kecil yang meminta mainan pisau kepada orang tuanya. Orang tua pasti tidak memberikan pisau yang diminta anak kecil. Namun, bukan tidak boleh, namun belum ‘layak’ anak kecil bermain pisau, bisa-bisa akan mencelakakannya.

Nah, Tuhan telah mendengan doa kita. Doa atas keinginan-keinginan dalam hidup. Tapi ketika kita belum meraihnya, berarti Tuhan belum melihat kita ‘layak’ mendapatkannya. Hal ini karena Tuhan sangat sayang kepada kita. Siapa tahu, ketika Tuhan ‘segera’ mengabulkan keinginan kita, kita malah menjadi sombong dan akhirnya melupakan-Nya. Oleh karena itu tindakan yang terakhir adalah:

Utamakan kesadaran dan keselasaran antara keinginan kita dengan kehendak (iradah) Tuhan. Kesadaran bahwa kita harus beriktiar untuk pencapaian hidup seperti yang diinginkan adalah sesatu yang wajib. Namun, kita tidaklah boleh lupa bahwa Tuhan telah memiliki kehendak atas apa yang terbaik buat kita. Itulah hakikat dari TAWAKAL.

Dengannya, berarti kita, dalam menjalani keinginan hidup, harus berorientasi kepada proses, bukan kepada hasil. Bukankah menonton pertandingan sepak bola dari awal sampai akhir itu lebih puas dari sekedar mengetahui hasil akhirnya? Dan, jauh lebih puas lagi jika kita sebagai pemainnya, karena kita ‘berkontribusi’ dalam sebuah pertandingan untuk kemenangan, bukan? Itulah kehidupan. Sadar bahwa kita harus melewati prosesnya, dan biarkan Tuhan yang memutuskan hasilnya.

Sahabat,

Itulah Tindakan JITU yang harus kita lakukan. Semoga istirahat kita, akan menjadikan hidup dan kehidupan kita yang lebih bermakna.


Salam SuksesBahagia,

Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia



View Details

Selasa, 14 Februari 2012

Rayakan valentine dengan PACARAN




Pertama kali saya mengenal kata ‘valentine’ adalah pada saat kelas 2 SMP. ‘Mam, happy valentine.’ Begitu kata teman-teman saya waktu itu. Saya tertegun, siapa dan apa itu valentine? ‘Emang apaan.’ Jawab saya. ‘Pokoknya selamat hari kasih sayang.’ ‘Kasih sayang? emang ada perayaannya juga ya?’ ‘Ah ente, ga gaul amat cee.’

Begitulah uforia anak-anak SMP jaman saya (sekarang? Mungkin lebih dahsyat kali ya). Namun saya yang berasal dari ‘kampung’, tidak begitu ‘ngeh’ dengan perayaan hari kasih sayang. Karena menurut saya waktu itu, kasih sayang itu setiap hari kita rayakan dengan memberikan dan menebarkannya kepada manusia yang lain.
Beranjak di SMU, tradisi valentinan semakin menggema. Setiap memasuki bulan Februari, para ABG (tak terkecuali di SMU tempat saya belajar) mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan valentine. Ah, mengapa harus seperti itu?

Beruntunglah, pada saat ‘kegalauan’ hati yang miris dengan perayaan valentine yang tidak jelas (dalam pikiran awam saya), ada rekan mahasiswa dari UNSOED (saya bersekolah di SMU 4 Purwokerto) mengajak ‘liqo’ dan tepat pada saat itu ‘murabbi’ kami membahas mengenai perayaan valentine yang mengandung maksiat. Ah, terjawablah kegalauan saya. Ternyata benar, valentine hanyalah sebuah aktivitas yang sangat jauh dari syariat agama Islam yang saya anut, bahkan lebih condong kepada tindak kemaksiatan. Iih,, ngeri, kemaksiatan yang berjamaah tentunya. Na’udzubillah !!!

Saat ini, setelah hampir 10 tahun saya meninggalkan bangku SMU, perayaan valentine masih menjadi santapan lezat para syaitani. Berlomba-lomba pula para aktivis dakwah menyuarakan akan ‘keharaman’ perayaan valentine bagi umat Islam (terutama para ABG-nya). Namun, sepertinya ‘suara kebenaran’ tidak lagi mempan, terbukti dengan masih banyaknya ABG muslim yang masih membuat ‘acara khusus’ setiap tanggal 14 Februari. Ada apa gerangan? Sudahkah para ABG itu tertutup telinga nuraninya sehingga menganggap ‘kuno’ bagi mereka yang tidak merayakan valentine atau mengatakan ‘basi’ kepada para penyeru yang mengharamkan perayaannya? Atau cara ‘dakwah’ yang kurang mengena, sehingga dianggap angin lalu?

Jika saya perhatikan, gema kajian tentang valentine yang dilakukan oleh para pen-dakwah, hanya terasa di saat perayaan itu sudah di depan mata. Maka wajar jika bagi mereka yang telah mempersiapkannya, tidak siap dalam menerima seruan kebenaran itu. Alangkah lebih optimalnya jika, seruan selalu dikumandangkan pada mereka. Bukan seruan yang sifatnya temporer. Artinya, tidak ada istilah menunggu moment lalu kemudian dibahas dan dikumandangkan kesesatannya, tapi kapanpun harus dilakukan yang namanya ‘pembentengan’ Iman bagi para ABG khususnya, agar terhindar dari fitnah valentine.

‘Pembentengan Iman’ sepertinya solusi yang tepat dari pada sekedar pengharaman. Ada kecenderungan, ketika manusia yang tengah ‘terlena’ dengan kesesatan, akan membenci yang namanya pengharaman. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya akan memberikan Pembentengan Iman alternative, yang semoga dengannya, secara bertahap akan menyelamatkan generasi kita mendatang dari fitnah perayaan valentine. Pembentengan Iman itu saya beri nama ‘PACARAN’.

Lho, kok pacaran? Bukankah pacaran itu tidak boleh dalam Islam, karena sarana mendekati jina? Eitts … tunggu dulu. Ini bukan pacaran biasa, tapi PACARAN yang luar biasa. Apakah itu ?

P-A (Pelajari Al-Quran).Nah, inilah langkah awal kita untuk membentengi keimanan generasi muda, juga umat Islam pada umumunya. Al-Quran, kalau kita mau jujur, hanya dijadikan sebagai sesuatu yang disakralkan, tanpa sebuah kajian apalagi pengaplikasian. Teringat ustadz saya waktu kecil selalu berkata, ‘Eh, kalau mau memegang al-Quran harus wudhu dulu.’ ‘Tidak boleh memegang al-Quran dengan tangan kiri.’ Dan beberapa ‘nasehat’ lainnya yang bersifat pelarangan dengan tujuan kehati-hatian. Saya tidak menyalahkan, namun, pendekatan itu hanya akan menjadi boomerang bagi umat Islam, yang karena tidak punya wudhu enggan untuk mengkaji al-Quran, karena takut dosa. Hal ini, ujung-unjungnya akan menjadi sebuah blok mental umat muslim untuk menyakralkan yang namanya Al-Quran. Al-Quran akhirnya disimpan dengan rapi di lemari tanpa tersentuh.

Oleh karena itu, pelajari al-Quran wajib kita lakukan dan kita berikan kepada generasi muda muslim saat ini. Dengannya, mereka akan tercerahkan, betapa valentine yang mengatakan kasih-sayang, hanya akan mengarahkan kepada tindak kemaksiatan. Dan al-Quran membahas kasih sayang dengan lugas dan suci. Lihatlah, ayat pertama yang tertuang dalam mushaf Quran adalah kalimat bismillahirahmaanirrahim. Ayat itu telah memberikan bukti, kasih-sayang itu sesuatu yang suci, kasih-sayang itu sifat utama Allah SWT. Bukan kasih-sayang penuh kemaksiatan.

Begitu juga pada ayat-ayat yang lainnya. Sungguh, kasih-sayang adalah ajaran utama al-Quran. Kasih-sayang yang berlandaskan iman yang kokoh. Kasih-sayang yang harus selalu tersebar di muka bumi ini. Tidak pada bulan Februari ini saja. Sekali lagi, terapi mempelajari al-Quran, akan membuka cakrawala umat, tentang hakikat kasih-sayang itu sendiri.

C-A-R (Cintai Allah dan Rasul-Nya).Yang kedua, setelah kita dan generasi muda muslim tercerahkan tentang hakikat kasih-sayang dari Al-Quran, muncullah sebuah kesadaran untuk semakin mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah dampak positif. Mencintai Allah dan Rasul-Nya harus kita letakkan di atas segala-galanya.

Bagaimana cara mencintai Allah? (silahkah lihat disini). Dan, bagaimana cara mencitai Rasul? (silahkan lihat disini). Saya yakin, kita sudah faham akan hal itu.

Nah, dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya, kita akan terdorong untuk mencintai diri sendiri. Mengapa? Karena dengannya, kita kembali akan tersadarkan, kalaulah hidup dan kehidupan kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhir. Yang akan dipertanggungjawabkan pertama kali adalah tentang pengoptimalan diri menuju ridho-Nya. Shalat yang kita lakukan adalah bentuk optimalisasi kesyukuran diri kita kepada-Nya. Begitu juga dengan amalan-amalan yang lainnya. Semua adalah untuk kita. Maka, cintai Allah dan Rasul-Nya, dengannya kita dan generasi muda muslim, akan lebih menyadari pentingnya mencintai diri sendiri. Mencintai diri sendiri berarti kita tidak rela jika kita terperosok ke jurang kenistaan karena kemaksiatan, yang dipelopori oleh fitnah valentine.

A-N (Amar ma’ruf, Nahyi munkar).Yang ketiga, pembentengan Iman adalah dengan semangat menyeru kepada kebaikan dan memerangi kemunkaran. Lho kok? Ya, dengan amar ma’ruf nahyi munkar, kita secara tidak langsung sedang ‘mendidik diri’. Sehingga kita akan teringatkan, kalau kita mengatakan kebenaran, mengapa kita malah bermaksiat? Maka, sampaikan kepada generasi kita, untuk memiliki semangat dakwah, menjadi penyeru kepada kebaiakan. Karena seyogyanya, seruan itu untuk diri sendiri. Ia adalah pengingat. Ia adalah benteng kesadaran.

Sahabat,

P-A, C-A-R, A-N adalah Pelajari Al-Quran, Cintai Allah dan Rasul-Nya, dan Amar ma’ruf Nahyi munkar. Mari kita isi valentine dengan menggugah kesadaran tentang pentingnya kembali kepada ajaran Islam. Dan, serukanlah selalu PACARAN ini, kapanpun dan dimanapun. Insya Allah, dengannya para ABG muslim khususnya, dengan sendirinya akan menjauhi munkarnya perayaan valentine. Semoga !!!


Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Senin, 13 Februari 2012

Belajar kepada Air Terjun


Air yang mengalir datar dengan air terjun, mana yang memiliki energi besar ? Tentu air terjun bukan ? Kita lihat saja, turbin generator untuk pembangkit listrik, pasti memanfaatkan air terjun. Air terjun adalah air yang 'menurunkan diri' atau air yang 'ke bawah'.

Dalam kehidupan, kita akan memiliki 'energi' yang besar jika kita 'menurunkan diri' (menurunkan diri untuk urusan akhirat) dan mau 'melihat ke bawah' (melihat ke bawah untuk urusan keduniaan).


'Menurunkan diri' artinya kita memiliki kesadaran akan kurangnya hidup penuh amalan hasanah (ibadah mahdah dan ghairu mahdah). Sehingga terpacu untuk meningkatkan kuantitas dan kualitasnya.

'Melihat ke bawah' artinya ketika urusan kehidupan keduniaan (harta, tahta) kita melihat kepada manusia yang berada di bawah. Sehingga terpacu untuk mensyukuri atas apa yang telah Tuhan berikan.

Kedua sifat di atas akan menghadirkan energi sedahsyat energi air terjun. Energi disini adalah sebuah dorongan kekuatan untuk lebih bersemangat dan optimis dalam menapaki hidup dan kehidupan (khususnya dalam 'beribadah' kepada-Nya). Ia adalah sifat penuh kesyukuran atas apa yang didapatkan dari Tuhan. Biasanya, kesyukuran mendatangkan nikmat (energi) yang lebih.

Selain itu, bukankah air terjun akan terlihat lebih indah jika dibandingkan dengan air yang mengalir datar? Begitulah hidup kita juga akan 'indah' ketika kita meng-konsisten-kan diri untuk memiliki sifat 'kurang' untuk urusan akhirat, dan 'lebih' untuk harta keduniaan.


Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Sabtu, 11 Februari 2012

Pohon Tua



Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya. Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu.

Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang. Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna,"
begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat,tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh. Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan,mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?” Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang. Hingga pada saat pagi menjelang.

"Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu?
Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya.
"Cittt...cericirit...cittt,” suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu...dua...tiga...dan empat anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon. Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka, akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya.

Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar. Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memang selalu punya rencana-rencana rahasia buat kita.

Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah di tebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan- Nya kita karunia yang berlimpah.

Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati.

Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah,sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.



NUGROHO, Imam




View Details

Jumat, 10 Februari 2012

Pernahkah Kamu Merasa Bosan ?




Pada awalnya manusialah yang menciptakan kebiasaan. Namun lama kelamaan, kebiasaanlah yang menentukan tingkah laku manusia.

Ada seorang yang hidupnya amat miskin. Namun walaupun ia miskin ia tetap rajin membaca.

Suatu hari secara tak sengaja ia membaca sebuah buku kuno. Buku itu mengatakan bahwa di sebuah pantai tertentu ada sebuah batu yang hidup, yang bisa mengubah benda apa saja menjadi emas.

Setelah mempelajari isi buku itu dan memahami seluk-beluk batu tersebut, iapun berangkat menuju pantai yang disebutkan dalam buku kuno itu.

Dikatakan dalam buku itu bahwa batu ajaib itu agak hangat bila dipegang, seperti halnya bila kita menyentuh makhluk hidup lainnya.

Setiap hari pemuda itu memungut batu, merasakan suhu batu tersebut lalu membuangnya ke laut dalam setelah tahu kalau batu dalam genggamannya itu dingin-dingin saja.

Satu batu, dua batu, tiga batu dipungutnya dan dilemparkannya kembali ke dalam laut.

Satu hari, dua hari, satu minggu, setahun ia berada di pantai itu.

Kini menggenggam dan membuang batu telah menjadi kebiasaannya.

Suatu hari secara tak sadar, batu yang dicari itu tergenggam dalam tangannya. Namun karena ia telah terbiasa membuang batu ke laut, maka batu ajaib itupun tak luput terbang ke laut dalam.

Lelaki miskin itu melanjutkan ‘permainannya’ memungut dan membuang batu. Ia kini lupa apa yang sedang dicarinya.

Teman, pernahkah kita merasakan kalau hidup ini hanyalah suatu rentetan perulangan yang membosankan? Dari kecil, kita sebenarnya sudah dapat merasakannya, kita harus bangun pagi-pagi untuk bersekolah, lalu pada siangnya kita pulang, mungkin sambil melakukan aktifitas lainnya, seperti belajar, nonton TV, tidur, lalu pada malamnya makan malam, kemudian tidur, keesokkan harinya kita kembali bangun pagi untuk bersekolah, dan melakukan aktifitas seperti hari kemarin, hal itu berulang kali kita lakukan bertahun-tahun !! Hingga akhirnya tiba saatnya untuk kita bekerja, tak jauh beda dengan bersekolah, kita harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke kantor, lalu pulang pada sore/malam harinya, kemudian kita tidur, keesokan harinya kita harus kembali bekerja lagi, dan melakukan aktifitas yang sama seperti kemarin, sampai kapan?
Pernahkah kita merasa bosan dengan aktifitas hidup kita?

Kalau ada di antara teman²ku ada yang merasakan demikian, dengarkanlah nasehatku ini :
“Bila hidup ini cuman suatu rentetan perulangan yang membosankan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menemukan nilai baru di balik setiap peristiwa hidup.”
Artinya, jangan melihat aktifitas yang kita lakukan ini sebagai suatu kebiasaan atau rutinitas , karena jika kita menganggap demikian, maka aktifitas kita akan amat sangat membosankan !!

Cobalah maknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, mungkin kamu akan menemukan suatu yang baru, sesuatu yang belum pernah kamu ketahui sebelumnya, “Setiap hari merupakan hadiah baru yang menyimpan sejuta arti.”

Salam SuksesBahagia !!!

NUGROHO, Imam

(dari berbagai sumber inspirasi)



View Details
 

Labels

Popular Posts