• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Rabu, 09 Mei 2012

Kekuatan Memaafkan


Saya mendapatkan kisah ini dari seorang teman, yang mungkin diantara rekan-rekan juga, sudah ada yang pernah tahu. Kisah ini menceritakan dua sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.

Di tengah perjalanan, keduanya bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang terkena tamparan merasa sakit hati, lelu tenpa berkata-kata dia menulis sesuatu di atas pasir :

HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU

Keduanya terus berjalan hingga tiba di sebuah oasis, di mana mereka memutuskan untu tuk mandi. Orang yang pipinya terkena tamparan dan terluka hatinya mencoba untuk berenang, namun ia nyaris tenggelam. Keberuntungan masih berpihak kepadanya, karena sahabatnya berhasil menyelamatkan dirinya. Ketika sudah tenang, ia menulis sesuatu pada sebuah batu :

HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELEMATKAN NYAWAKU

Orang yang telah menampar dan menolong sahabtnya bertanya,”Mengapa setelah saya melukai hatimu, engkau menulis di atas pasir dan mengapa setelah saya menolongmu, engkau menulis sesuatu di atas batu?”

Sang sahabat menjawab sambil tersenyum, “Ketika seorang sahabat melukaiku, kita harus melukiskannya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan jika sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Sahabat,

Dalam sebuah lingkungan kerja, perselisihan, beda pendapat, pertengkaran kecil adalah hal yang biasa dengan catatan masih dalam batas kewajaran, dan jangan sampai menimbulkan dendam. Karena jika dendam terpelihara, akan menggergoti produktivitas dalam bekerja. Biasanya ketika ada rasa dendam pada seseorang, akan menimbulkan rasa malas, capek, dan kebuntuan dalam kreatifitas. Padahal dalam lingkungan kerja, sangat diperlukan kreatifitas dan kerja sama agar produktivitas tim dapat tercapai.

Kita membutuhkan energi besar untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Motivasi internal akan tumbuh dalam hati yang selamat (qalbun salim) dan hati yang mudah memaafkan jauh dari dendam. Dengan memaafkan orang lain, hati akan menjadi tenang dan energy kita tidak habis untuk memikirkan orang lain. Bahkan, kita akan memiliki cadangan energy untuk meningkatkan daya kreatifitas dan inovasi dalam bekerja. Kekuatan ini bisa berguna untuk menjadi daya dorong kita dalam mengejar peluang dan menindaklanjuti prospek yang lebih cerah lagi dikemudian hari.

Sahabat,

Atau mungkin juga kita pernah merasa tersakiti oleh atasan kerja. Kita di rotasi pada bidang di luar minat, di demosi, di asingkan, dan bentuk-bentuk lain yang menyebabkan hati kita tersakiti. Maka sekali lagi kenanglah di atas pasir, agar sakitnya tidak lama dan kita dengan legowo memaafkan atasan kita. Toh kita juga harus berfikir positif bahwa apa yang dilakukan atasan adalah untuk kebaikan sebuah tim. Jangan di ukir di hati, dan biarkan dia akan terbawa oleh angin maaf yang sangat menyejukkan jiwa.

Jiwa yang sejuk, hati yang bersih akan menumbuhkan keikhlasan dalam bekerja. Artinya kita bekerja bukan untuk seseorang, tapi kita bekerja untuk Tuhan dan untuk kemenangan bersama. Biarkan Tuhan yang menilai kita dalam bekerja.

Sahabat,

Pun dalam proses kehidupan ini, sebagai manusia sosial, tentu kita tidak bisa “terlepas“ dari ikatan hubungan dengan orang lain. Adakalanya, kita merasa “tersakiti“ atau “menyakiti“ orang lain. Disinilah pentingnya mental “memaafkan“ dengan bijak atas kesalahan-kesalahan orang lain kepada diri kita. Sungguh, seyognyanya, disaat kita memaafkan orang lain disanalah ada kebahagiaan buat jiwa.

Satu hal lagi, memaafkan pada dasarnya bukan memberi, tapi melepaskan. Ya, melepaskan energi negatif yang menyelimuti jiwa. Jiwa yang terbebas dari energi negatif, adalah jiwa yang siap dengan jalan kebahagiaan. Jiwa yang terbebas dari energi negatif adalah jiwa yang bersih.

Dan yang lebih penting lagi, jiwa yang bersih akan selalu mengingat kebaikan orang lain dan berfikir positif. Memaafkan menjadi salah satu energi untuk melonjakkan prestasi kita dalam kehidupan ini. Maka, luangkanlah waktu untuk sekali lagi memikirkan orang yang pernah kita benci atau pernah menyakiti. Ingatlah kata-kata mereka yang menyakitkan, dan kemudian tenangkan batin kita. Katakan dalam hati dengan sekeras-kerasnya, “Aku telah memaafkanmu!!!”



Salam SuksesBahagia!!!


Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Senin, 07 Mei 2012

Memaknai Keluarga

Saya mendapatkan artikel di bawah ini, dari e-mail saudara Pramono Dewo. Sesaat, setelah saya membacanya, bergetar jiwa ini, betapa keluarga adalah sebuah amanah besar, dan jika kita mampu menjalankan amanah itu, kita akan mendapatkan keberkahan dan ridho dari-Nya. Selain itu, artikel di bawah ini, juga memberikan kesadaran, akan arti pentingnya sebuah keluarga. Selamat membaca :

Memaknai Keluarga

Bill Havens, seorang pendayung hebat berkaliber Internasional dalam masa karantinanya menjelang piala dunia mendayung, menerima berita bahwa istrinya akan segera melahirkan. Setelah mendengar kabar tersebut ia memilih untuk pulang & tidak mengikuti kejuaraan dunia & memutuskan untuk menunggui istrinya yg akan melahirkan.

Belasan tahun kemudian th 1952, Bill menerima telegram dari putranya, Frank yang pada saat itu baru saja memenangkan medali emas cano 10.000 meter pada Olimpiade di Finlandia. Telegram itu isinya:

"Ayah, terimakasih karena telah menunggu kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yg seharusnya ayah menangkan beberapa tahun yg lalu. Anakmu tersayang, Frank..."

Dari kisah diatas kita bisa belajar bagaimana kehadiran keluarga berdampak sangat besar bagi anggota keluarga tersebut. Theodore Roosevelt, mantan Presiden AS berkata: "Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dengan keluargaku daripada dengan petinggi-petinggi dunia manapun.

Sahabat...


Pada akhirnya kita akan sampai pada suatu titik dimana pada dasarnya semua yg kita lakukan, semua jerih lelah kita dalam pekerjaan, semua untuk mereka, keluarga yang kita cintai. Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa jabatan, prestasi, & promosi tidaklah seberarti kebersamaan diantara keluarga.

Jadi relakah saudara menukar kehangatan dalam keluarga anda dgn kesibukan dalam pekerjaan anda yg mungkin sudah sangat berlebihan? Selalu ada hasil yg terbaik dari kerja keras yg terbaik pula

Jika Anda Marketer : Keluarga adalah nasabah utama Anda.

Jika Anda karyawan : Keluarga adalah boss Anda sesungguhnya.

Jika Anda investor : investasi yg paling berharga adalah nilai-nilai yang Anda tanam dalam keluarga Anda.

Pastikan ketika anda diposisi puncak gunung kesuksesan, Anda mengibarkan bendera kemenangan dengan pelukan keluarga disekitar Anda, dan bukan dalam keadaan mereka tertinggal dibawah sambil mereka menangis karena kehilangan Anda.

Keluarga.... sebuah ikatan yang akan menguatkan kekuatan-kekuatan kita dan melemahkan keadaan-keadaan yang  ingin melemahkan kita ...

"Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yunin waj-’alna lil-muttaqina imama..."

Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. 

(QS. Al-Furqan: 74)


Barakallah fiikum...
Pramono Dewo



Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Jumat, 04 Mei 2012

Manusia, Mahluk Yang Sempurna

Tersebutlah seorang pria yang sedang meratapi nasib hidupnya, yang tak kunjung keluar dari lubang penderitaan. Ia membenci hidupnya. Ia membenci dirinya sebagai manusia. Ia menganggap dirinya hanyalah sebagi sampah yang tidak berarti.

Suatu hari, tatkala ia sedang duduk di teras rumahnya, ia melihat matahati yang bersinar terang. “Ah, alangkah senangnya menjadi matahari. Dinanti kehadirannya setiap hari. Wah, aku mau berubah menjadi matahari saja.” pikirnya. Dan ajaib, pikiran lamunannya menjadi kenyataan, ia pun menjadi matahari.

Satu sampai tiga hari menjadi matahari, terasa sangat bahagia. Hari-harinya penuh dengan senyuman kegembiraan. Hari ke empat, mulai ia merasakan kejenuhan. Terlebiih, ketika musim berganti menjadi penghujan, sering ia tertutupi oleh awan hitam, hingga sinarnya tidak sampai di bumi. Maka ia menginginkan untuk berubah menjadi awan. Dan, seperti keajaiban yang pernah ia peroleh, ia pun menjadi awan hitam.

Menjadi awan tebal dan hitam, membuat ia bergembira karena bisa mengahalangi sinar matahari. Namun tiba-tiba ia merasa terombang-ambing. Maka ia pun mencari penyebabnya. Ternyata, yang membuatnya terombang-ambing kesana-kemari adalah angin. Setelah mengetahui angin bisa membuat awan terbang tidak karuan, ia beraharap bisa menjadi angin. Dan, ia pun berubah lagi menjadi angin.

Gagah dan sombong ia tunjukkan dirinya setelah menjadi angin. Tidak hanya awan yang ia goyangkan, benda-benda lain pun sanggup ia terbangkan. Wuihhh, bahagianya ia mengetahui dirinya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.

Dalam kesombongannya terbang kesana-kemari dengan mendorong barang-barang berbobot, tiba-tiba ia terhentikan oleh dinding yang sangat kuat. Ia mengeceknya. Dan ia dapati, berdiri kokoh didepannya sebuah gunung tinggi menjulang. Ia berpikir, “Ah, ternyata angin kalah sama gunung. Coba saya menjadi gunung.” Kontan, ia pun berubah lagi menjadi gunung.

Benar, setelah menjadi gunung, angin sebesar apapun tidak mampu merobohkannya, bahkan menjadikan angin kembali menyerang balik dirinya. Ia gembira, merasa dirinya hebat, tak terkalahkan, ia mencintai dirinya sebagai gunung.

Adalah seekor landak yang memiliki kebiasaan melubangi tanah. Maka, landak mampu menjadikan tanah berlubang besar. Dan ketika lubang landak ciptakan di setiap lereng gunung, maka robohlah gunung itu. Gunung merasa dirinya terancam kembali. Ia merasa dirinya tidak berguna. Ia ingin menjadi landak yang mampu melubangi gunung, hingga gunung roboh, sehingga dialah yang terkuat.

Tapi landak hanyalah seekor hewan kecil. Dengan mudahnya landak ditangkap manusia. Baik untuk peliharaan, atau untuk dimusnahkan. Setelah ia merenung, ternyata, manusialah mahluk yang paling “hebat” di muka bumi ini. Manusialah yang paling berkuasa. Maka, tidaklah pantas untuk meratapi hidup dan kehidupan yang telah Tuhan berikan. Adapun masalah dan cobaan hidup, adalah sarana untuk menjadikan manusia semakin tangguh. Ketika manusia tangguh, ia akan mampu menaklukan matahari, awan, angin, gunung, dan landak.

Sehingga, pria tersebut bertaubat dan berjanji untuk tidak membenci dirinya. Ia bangkit dari masalah hidupnya. Ia mencintai dirinya. Ia mengoptimalkan potensi yang Tuhan berikan kepadanya. Ia tersadar, manusia adalah mahluk yang diciptakan dengan kesempurnaan. Masalah dan cobaan hidup, adalah bagian dari kesempurnaan itu sendiri.

Wallahua’lam …



Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Kamis, 03 Mei 2012

Mengubah Paradigma Menuju Hidup SuksesBahagia

“Sesungguhnya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.”

(Q.S. Ar-Ra’du [13] : 11)


Ayat di atas mengisyaratkan kepada kita, jika diri kita berperan sebagai bentuk ikhtiar dalam mengubah nasib hidup. Ketika hidup Anda terasa menderita, maka Anda bisa mengubahnya menjadi bahagia. Ketika hidup Anda penuh masalah, maka Anda bisa mengubahnya menjadi anugerah. Disini bukan berarti kita “mencampuri” kehendak-Nya, tapi sebagai bentuk “syukur” atas segala kesempurnaan yang telah Allah berikan, yaitu akal atau pikiran.

Maksudnya adalah dengan optimalisasi pikiran ke arah yang positif, kita bisa mengubah sesuatu yang tampaknya buruk menjadi baik, sesuatu yang tampaknya masalah menjadi anugerah. Ya, persis dengan ayat 11 dari surat Ar-Ra’du di atas dan kita mengawali perubahan diri dari pikiran kita, sudut pandang kita, mindset kita dalam memandang setiap persoalan dan masalah hidup.

Sahabat,

Untuk lebih jelasnya, saya akan menyampaikan sebuah cerita, yang dengannya semoga Anda bisa lebih memahami, bahwa mengubah pikiran ke arah yang positif akan membawa kepada jalan kebahagiaan hidup. Ya, bahagia adalah sebuah jalan atau metode dalam hidup menuju kesuksesan.

Tersebutlah seorang wanita tua yang selalu merasa menderita. Hari-harinya adalah lamunan kesedihan dan penderitaan. Wajahnya muram tak ada gairah hidup. Hingga pada suatu hari, lewatlah seorang pemuda di depan rumahnya, dan mendapati wanita itu sedang bersedih menitikkan air mata. Maka, bertanyalah pemuda itu, “Wahai ibu, apa yang sedang kau sedihkan?”

Wanita itu menjawab, “Saya bersedih karena memikirkan anak sulung saya.”

“Lho, memang kenapa dengan putrid sulung ibu?” tanya pemuda itu lagi.

“Saya memiliki dua orang putri. Yang sulung berjualan payung dan yang bungsu berjualan sepatu kain. Jika sedang musim hujan, maka saya besedih memikirkan si bungsu karena tentu sepatu kainnya tidak laku, dan jika musim kemarau seperti sekarang ini, saya bersedih memikirkan si sulung karena tentu payungnya tidak laku terjual.” Jelas wanita itu.

“Oh, bagaimana jika ibu mengubah sudut pandang dalam melihat kejadian itu? Cobalah ibu melihat kebahagiaan dan kegembiraan yang dirasakan si bungsu ketika musim kemarau tiba seperti sekarang, dan melihat kebahagiaan si sulung ketika musim penghujan.” Pemuda itu memberikan nasehat.

Maka, wanita itu pun melakukan apa yang disarankan kepadanya. Sekarang dia tidak lagi besedih karena terbayang olehnya kegembiraan putri bungsunya yang menjual sepatu kain. Dan pada saat musim penghujan, dia bergembira karena memastikan putri sulungnya laku dalam menjual payung.
Sahabat,

Semoga tulisan sederhana ini bisa memberikan inspirasi untuk hidup lebih SuksesBahagia. Amiin …


Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Rabu, 02 Mei 2012

Pendidikan Diri, Itu Yang Utama


Hari ini, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Sebagaimana kita ketahui, tanggal 2 Mei adalah tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar menyampaikan trilogi pendidikan, yaitu: Ing Ngarso Sun Tuladha, Ing Madya Mangun Karasa, dan Tut Wuri Handayani. Namun dalam perjalanannya, hingga saat ini trilogi tersebut hanya sebuah pajangan sejarah belaka.

Lebih parahnya lagi, saya pernah membaca sebuah artikel di Eramuslim, trilogi tersebut ternyata tidak jelas landasan pijakannya dan dalam konteks apa. Maka sepertinya kini saatnya kita melakukan re-mindset pendidikan.

Sahabat,

Tarbiyah bukan segala-galanya, namun segala-galanya memerlukan tarbiyah.Kalimat ini sangat terkenal dikalangan aktivis pergerakan tarbiyah. Ya, tarbiyah dalam konsep sederhananya bermakna pendidikan. Sehingga, pendidikan bukan segala-galanya, namun segala-galanya memerlukan pendidikan. Pertanyaannya, dari mana pendidikan itu dimulai dan tentang apa?

Pendidikan seyogyanya di mulai dari rumah tangga (keluarga). Sehingga kita harus membangun sebuah keluarga yang tangguh. Keluarga yang terang karena ada cahaya ilmu. Keluarga dengan gaya sekolah dan masjid.

Maka sebagai orang tua, adalah berkewajiban mutlak untuk menjadikan anak-anaknya haus akan ilmu dan juga indah dengan hiasan ahlak. Betapa Islam telah memberikan jalan yang jelas, baik lewat firman-Nya atau tauladan nabi-Nya. Perhatikanlah masa-masa pertumbuh kembangan anak. Disanalah kita akan mendapatkan usia emas seorang anak. Tanamkan nilai-nilai, tanamkan ahlak, tanamkan rasa haus akan ilmu dan belajar.

Istri saya, telah mengajak anak saya (Zyra yang baru berusia dua bulan) berbicara. Setiap dia bangun pagi, istri saya langsung berkata, “Assalamu’alaikum Zyra, hari baru  untuk kamu nak, ayo semangat!” dan hal ini hamper ia lakukan setiap pagi. Mungkin terdengar aneh. Tapi ternyata, ketika istri saya dengan kasih sayangnya “mendidik” lewat “bicara”, anak saya yang baru dua bulan sudah aktif merespon orang lain dengan ocehan yang lucu dan menggemaskan. Padahal kata dokter, baru di usia empat bulan bayi bisa merespon dengan aktif dunia luar disekitarnya.

Itu adalah contoh. Langkah pertama pendidikan di keluarga. Untuk selanjutnya orang tua harus konsisten mendampingi masa perkembangan anak.

Adapaun yang utama dan pertama ditanamkan dalam konsep pendidikan adalah tentang ahlak. Ya, ahlak. Sebagaimana Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan ahlak. Ahlak dalam hal apa? Ahlak kepada Tuhan (tauhid), ahlak kepada Rasul, ahlak kepada diri sendiri, dan ahlak kepada orang lain (termasuk didalamnya orang tua), serta ahlak kepada alam sekitar.

Sahabat,

Bagi yang belum bekeluarga, maka pendidikan kepada anak dimulai dengan “cara” Anda ketika hendak membangun keluarga itu sendiri. Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Ketika Anda asal-asalan ketika memilih calon pasangan, maka anak yang terlahirpun “asal-asalan” jadi. Maka carilah pasangan yang ideal dengan cara meng-ideal-kan diri sendiri terlebih dahulu. Mengapa? Karena, perempuan yang baik akan mendapatkan pasangan suami yang baik, dan lelaki yang baik juga akan mendapatkan pasangan istri yang baik pula. Begitu juga sebaliknya, yang tidak baik akan mendapatkan yang tidak baik pula.

Oleh karena itu, siapkan diri Anda untuk menjadi laki-laki atau perempuan yang layak mendapatkan pasangan hidup yang ideal. Karena dari sanalah awal pendidikan keluarga Anda dimulai.

Sahabat,

Pendidikan adalah kunci keberhasilan hidup. Maka, marilah moment peringatan hari pendidikan ini, kita lakukan dengan kembali “mendidik“ diri, untuk menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, yang akan menciptakan keluarga-keluarga yang tangguh, masyarakat  yang tangguh, dan ummat yang tangguh pula.



Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Selasa, 01 Mei 2012

May Day : Peringatan Optimalisasi Diri


Anda pernah main catur? Ya, dalam permainan catur, ada pion, ada kuda, ada benteng, ada mantri, dan yang pasti ada raja. Nah, untuk memenangkan permainan catur, biasanya yang dijadikan umpan terlebih dahulu adalah pionnya, ya kan? Jarang atau bisa dikatakan tidak pernah, yang dijadikan umpan itu benteng atau mantrinya. Namun demikian, ada juga pion yang pada akhirnya bisa berubah menjadi kuda, benteng, dan mantri, yaitu pion yang terus melaju hingga ke pertahanan lawan.

Dalam sebuah perusahaan-pun, sebenarnya ada kemiripan dengan permainan catur. Karyawan biasa diidentikan dengan pion. Karyawan yang punya jabatan tertentu (bisa supervisor, manajer, senior manajer) diidentikkan dengan kuda, mantri, atau benteng. Dan owner atau presdirnya diidentikan dengan raja.

Nah, ada kalanya sebuah perusahaan mengalami masa “paceklik“ sehingga akan melakukan yang namanya efisiensi anggaran dengan mem-PHK karyawannya. Pertanyaan saya, siapa yang akan di PHK pertama kali? Karyawan biasa, para supervisor, atau manajer, atau mungkin prosdir nya? Semua jawaban pasti rata-ratanya adalah karyawan biasalah yang akan dijadikan “umpan“ penyelematan perusahaan, dengan di PHK. Baru kemudian jika perlu para supervisor, manajer, atau senior manajer yang ada di perusahaan itu.

Namun ada juga karyawan biasa yang tetap dipertahankan. Yaitu mereka yang memiliki skill, knowledge, dan attitude yang baik selama bekerja, merekalah karyawan yang berkualitas dan berpotensi. Merekalah “the Star“ di perusahaannya, yang pada gilirannya akan menududuki puncak manajemen di perusahaannya.

Sahabat,

Dari cerminan di atas, May Day, yang katanya adalah hari buruh sedunia, seyogyanya diisi dengan tuntutan kepada mereka yang hanya mau menjadi karyawan biasa-biasa saja. Agar menjadi luar biasa, dengan optimalisasi potensi dan kualitas diri.

Tuntutan yang selama ini disuarakan, tidaklah sesuatu yang mendasar. Mengapa? Karena tuntutan itu hanya sebuah bentuk “penghambaan diri“ terhadap gaji dan pendapatan atas pekerjaan yang dilakukan. Sebagai contoh, kenaikan gaji. Apakah ketika gaji naik potensi dan kualitas mereka juga “naik“ ? Yang saya perhatikan, kenaikan gaji yang mereka dapatkan, hanya menjadikan mereka semakin konsumtif belaka. Bukan berarti saya tidak sependapat dengan adanya isu kenaikan upah batas minimum. Sebagai bangsa yang besar, tentu perlu ada keseimbangan pendapatan. Namun janganlah perjuangan yang dilakukan hanya berakhir dengan sesuatu yang kurang tepat atau bahkan menghadirkan masalah baru.

Maka sahabat saya yang SuksesBahagia,

Cobalah untuk menuntut ke dalam. Sudahkah potensi diri dioptimalkan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas? Sungguh, Tuhan telah begitu sempurnanya membekali hidup dan kehidupan kita dengan segala potensi yang ada. Baik yang ada di dalam diri atau yang ada di luar.

Potensi yang ada di dalam diri misalnya: kecerdasan intelektual, kecerdasan fisik, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. Jadikanlah kecerdasan itu untuk menunjang keberhasilan optimalisasi diri.

Potensi yang ada di luar diri misalnya: waktu. Apakah waktu kita digunakan dengan optimal sehingga tercermin dalam budaya kerja tuntas? Ataukah waktu-waktu kita di tempat kerja hanya kita gunakan untuk sesuatu yang kurang penting?

Sahabat,

Mari kita renungkan bersama. May Day adalah sebuah peringatan untuk kebangkitan buruh, karyawan, dan kita semua. Kebangkitan dari manusia biasa-biasa saja (pion) menjadi manusia yang luar biasa (benteng, kuda, mantra, atau raja).



Salam SuksesBahagia !!!



Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia



View Details
 

Labels

Popular Posts