• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Senin, 11 Juni 2012

Cinta Orang Tua Kepada Anaknya


Tadi malam, Zyra agak susah tidur. Uring-uringan. Tampak kegerahan. Sampai-sampai istri saya BT dibuatnya. Maka saya pun mencoba membantu “menenangkan” Zyra. Saya gendong dia dan saya ajak untuk “mengobrol”.

Alhamdulillah, setelah 30 menit berlalu, Zyra terlelap tidur. Saya pandangi dia. Terrr, bergetar hati ini. Mengapa? Terbayang oleh saya pengorbanan yang dilakukan orang tua sewaktu saya seusia Zyra. Betapa mereka selalu direpotkan. Namun, saya yakin, mereka ikhlas menjalani semuanya.

Dan kini, saya merasakan apa yang mungkin dulu mereka rasakan. Jujur, ada perasaan yang tak tergambarkan ketika menyaksikan sang buah hati menangis, uring-uringan, atau kegerahan dan kehausan. Bukan marah, tapi sayang. Bukan benci, tapi cinta (sangat aneh jika, ada orang tua yang tega menyakiti anaknya hanya karena anaknya rewel).

Hum, wajar jika Allah SWT menyebutkan durhaka kepada orang tua termasuk durhaka besar setelah syirik, berada di level ke dua.

Arggh, saya sedih mengingat saya belum berbuat banyak untuk membahagiakan orang tua saya. Terlebih ayah sudah almarhum. Bisa dibilang, saya belum bisa “mengabdikan” diri untuknya.

Maka, saya berharap kepada Allah, keihklasan dan kesabaran saya bersama istri dalam membesarkan Zyra, bisa mengurangi kesalahan saya karena belum bisa membahagiakan dan berbakti kepada orang tua secara optimal. Amiin...

Zyra, jadilah anak yang cerdas dan shalihah ya .....



Salam SuksesBahagia !!!

Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Sabtu, 09 Juni 2012

Ingatlah, Allah Maha Melihat !

Pernahkah Anda menyaksikan pembawa berita di televisi melakukan pekerjaannya ogah-ogahan? Tidak serius? Bercanda? Dan perilaku buruk lainnya?


Jawabannya tentu tidak pernah, ya kan? Mereka akan selalu tampil prima, penuh kesungguhan, dan menghayati  pekerjaannya itu. Mengapa demikian? Karena mereka "yakin" di lihat oleh jutaan mata yang menonton televisi. Mereka tentu ingin terlihat profesional, sungguh-sungguh, dan meyakinkan pemirsa di rumah yang menontonya. Padahal, mungkin tidak semua mata penonton seruis memperhatikannya, atau bahkan sampai tertidur.


Sekarang, apakah kita "yakin" kalau kita juga ternyata selalu di lihat setiap saat oleh Allah SWT? Kalau yakin, mengapa kita begitu sering berbuat yang tidak baik? Kita sering menyia-nyiakan waktu yang Dia berikan. Berbuat curang. Berbuat maksiat dan hidup seenaknya sendiri, seolah tidak ada yang melihat?


Sahabat,


Sadarlah bahwa, Allah SWT tidak pernah lengah dari penglihatan-Nya. Allah SWT tidak pernah tidur. Maka, tampillah selalu setiap hari berada dalam ridho-Nya. Hindarkan diri dari perbuatan maksiat. Jagalah tingkah laku kita. Jagalah ucapan kita. Allah Maha Melihat !!!!




Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Kentang dan Dendam


Suatu waktu, ada seorang guru SMP yang meminta murid-muridnya untuk membawa satu kantung plastik ke sekolah. Kemudian, dia meminta setiap anak untuk memasukkan satu kentang berukuran kelereng yang  telah disediakan kedalam kantung untuk setiap orang yang berbuat salah pada mereka dan tak mau mereka maafkan. Kantung itu harus mereka bawa selama satu minggu.

Anak-anak diminta menuliskan nama orang itu dan tanggal kejadian pada kulit kentang. Dan kantung tersebut harus dibawa kemanapun mereka pergi selama satu minggu penuh. Kantung itu, harus berada di sisi mereka saat tidur, di letakkan di meja saat mereka belajar, dan ditenteng saat berjalan. Menjadikan kantung itu sebagai teman mereka. Ada beberapa anak yang memiliki kantung yang ringan, namun tidak sedikit juga yang memiliki plastik kelebihan beban.

Hari berganti hari kentang itu makin membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Hampir semua anak mengeluh dengan pekerjaan ini. Akhirnya, waktu satu minggu itupun selesai.

Dan semua anak, agaknya banyak yang memilih untuk membuangnya daripada menyimpannya terus menerus.

Sahabat 

Ada hikmah dibalik cerita ini. Saat kita tidak mau memaafkan seseorang, maka itu seperti kita sedang membawa beban. Iya, membawa beban di hati kita.

Memberi maaf adalah lebih mudah dan ringan daripada membawa beban yang akan memperlambat pikiran juga gerak kita. Iya, memperlambat. pikiran yang seharusnya memikirkan hal lain, harus terisi sebagian oleh siapa dan kenapa kita tidak memberi maaf.

Saat kita menyimpan dan memendam kemarahan, dendam, maka sebenarnya kita sedang membawa kebusukan dihati kita. Akan ada perasaan berat, tertekan, juga kegalauan menyelimuti hati kita. Dan ini adalah suatu penyakit. Segala sesuatu yang busuk, jika tidak segera dibuang, maka pada saatnya nanti akan dibuang beserta wadahnya. Begitu pula dengan kita, jika kebencian itu tidak segera dibuang dari hati kita, maka kitalah yang akan dipinggirkan dari sekeliling kita.

Mungkin kita berpikir, memaafkan adalah hadiah bagi orang yang kita beri maaf. Namun, harus kita sadari, bahwa pemberian itu, adalah juga hadiah buat diri kita sendiri. Hadiah untuk sebuah kebebasan. Kebebasan dari rasa tertekan, rasa dendam, rasa amarah, dan kedegilan hati.



Salam SuksesBahagia

Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia



dari berbagai sumber


View Details

Kamis, 07 Juni 2012

Allah Takkan Membiarkan Kita dalam Kesengsaraan


Cerita 1

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki duduk di bawah pohon kurma. Kemudian dia terlentang dengan merebahkan punggungnya. Tiba-tiba dia melihat burung pipit yang di mulutnya terdapat buah, terbang dari pohon kurma yang berbuah ke pohon lain yang tidak berbuah. Dia melihat burung tersebut melakukan ini berulang-ulang. Dia pun heran terhadapnya. Dia berkata dalam hati, “Sungguh saya akan memanjat pohon ini, agar saya tahu apa yang terjadi.“ Lalu ia memanjat pohon. Ternyata dia melihat di dalam pelepah pohon kurma ada seekor ular buta yang membuka mulutnya. Sedangkan burung pipit menjatuhkan buah di mulut ular tersebut. Dia pun merasa takjub dengan kejadian itu dan berkata, “Maha Benar Allah yang telah berfirman:

“Dan tidak satu pun mahluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya di jamin Allah rezekinya.“

(Q.S. Huud [11] : 6)

Cerita 2

Dihikayatkan bahwa Ibnu Absyadz An-Bahwi suatu hari sedang berada di atap Masjid Jami Mesir. Dia makan suatu makanan. Di sisinya terdapat banyak orang. Lalu seekor kucing mendatangi mereka. Lantas mereka memberikan sesuap makanan kepada kucing tersebut. Kucing itu pun mengambil dengan mulutnya dan pergi meninggalkan mereka. Kemudian kucing tersebut kembali lagi, lalu mereka melemparkan kepadanya makanan lain. Lantas kucing itu pun melakukan hal yang sama samapi berulang-ulang. Setiap kali mereka melemparkan makanan, kucing itu mengambilnya, lalu pergi, kemudian kembali lagi seketika. Sehingga, merasa heran dengan kucing tersebut. Mereka yakin bahwa semisal itu tidak mungkin dimakan si kucing sendirian karena terlalu banyak. Ketika mereka penasaran dengan kejadian tersebut, maka mereka mengikuti kucing. Ternyata mereka mendapatinya naik ke atas dinding atap Masjid Jami, kemudian turun ke tempat yang searah dengannya di antara reruntuhan. Ternyata di dalamnya terdapat kucing lain yang buta. Semua makanan yang diambil si kucing dibawa kepada kucing yang buta tersebut dan diletakkan di hadapannya, lalu kucing buta memakannya. Mereka pun takjub dengan kejadian ini. Lalu Ibnu Absyadz berkata, “Jika untuk binatang buta ini Allah menundukkan kucing ini untuknya. Kucing ini memenuhi kecukupannya dan tidak menghalangi rezekinya, maka bagaimana mungkin Allah menyia-nyiakan orang semisal aku?“

Sahabat,

Sungguh, Allah telah bertanggung jawab atas penciptaan manusia di bumi ini. Bertanggung jawab untuk semua hidup dan kehidupan manusia dengan segala keperluan dan rezekinya. Bertanggung jawab untuk menjadikan manusia sebagai mahluk yang mulia.

Tidaklah masalah-masalah dalam kehidupan itu lebih mulia dari manusia itu sendiri. Maka, tidak ada alasan jika kita dikendalikan oleh masalah. Masalah apa? Setiap masalah yang menjadikan kita terlena dalam kesedihan. Ada seorang sahabat yang mengeluhkan hidupnya yang tak kunjung keluar dari jurang kemiskinan. Ia stress dan putus asa. Pendapatannya tidak mencukupi kebutuhan kesehariannya. Anaknya sering sakit-sakitan. Istrinya menganggur.  “Tuhan tidak sayang dan telah melupakan saya. Mengapa saya susah sekali mendapatkan rezeki hidup?“ Begitulah yang selalu ia ucapkan. “Lebih baik aku mati saja!“

Ah, dia tidak memiliki Iman yang kuat. Lihatlah cerita di atas. Untuk hewan yang buta pun, Allah telah menjaga dan menyajikan rezekinya. Maka, tidaklah mungkin Allah melupakan manusia yang telah dinobatkan sebagai wakil-Nya di muka bumi ini.

Sahabat,

Sambut hari-hari dengan optimis. Raih rezeki dengan Iman dan Ikhlas. Insya Allah, jalan kebahagiaan hidup terbentang luas di hadapan kita. Bumi dengan segala isinya ini, telah diwariskan kepada manusia.

“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.“

(Q.S. Al-Baqarah [2] : 29)

Wallahua’lam.


Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Sabtu, 02 Juni 2012

Aku Tidak Lebih Baik Darinya


Sadar akan lemahnya saya sebagai manusia, membuat saya tak sanggup menyalahkan orang lain, TUHAN yang paling berHAK pun tak mau melakukannya.
#bukupemulihanjiwa

Kalimat tersebut pernah saya tulis di status fb beberapa hari yang lalu. Berkali-kali saya membacanya. Ya, kebetulan kalimat itu saya dapatkan dari buku Pemulihan Jiwa, karya Dedy Susanto, sebuah buku yang sangat fenomenal untuk urusan manajemen hati dan pikiran. Dengan buku tersebut, saya terbantukan untuk lebih arif dan bijak dalam bersikap.

Ketika buka-buka web dakwatuna.com, saya mendapatkan artikel dengan judul “Aku Tidak Lebih Baik Darinya“ tulisan Ukhti Kiptiah Hasan. Artikel tersebut cukup mampu menjelaskan maksud dari kalimat yang sebutkan di atas. Nah, untuk lebih lengkapnya, saya akan menyampaikannya kepada Anda. Semoga dengan tulisan Kiptiah Hasan ini, saya, Anda, kita mampu lebih dalam menguatkan azzam untuk memperbaiki diri. Hm, sungguh, diri ini tidak sebaik dari yang lain. Mari kita merenung bersama untuk hidup lebih baik.

Aku Tidak Lebih Baik Darinya
Oleh: Kiptiah Hasan

Malam itu saya ada janji bertemu dengan seorang kawan, bukan sebuah janji untuk membicarakan suatu yang penting. Hanya ingin bertemu untuk melepaskan rasa rindu yang telah kami pendam karena kesibukan kami. Kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta.

Iseng-iseng aku mengajak dia untuk bertanya harga hape, karena memang aku sedang mensurvey harga hape. Karena kawanku pun baru membeli hape baru di pusat perbelanjaan tersebut, maka ia merekomendasikan toko tempat ia membeli hapenya padaku. Sampai ke toko yang dimaksud, kami disambut oleh pramuniaga dan pemiliknya (mungkin). Kami dijamu dengan baik, pemiliknya itu masih mengingat kawan saya karena baru kemarin ia membeli hape.

Dibalik penyambutan yang hangat, ada kejanggalan yang menggelayut dalam hatiku. Pramuniaga toko itu. Bajunya mungkin biasa saja. Kaos lengan pendek, tapi… bahannya sangat tipis dan ukurannya kecil sehingga tampak baju dalamannya terlihat jelas. Entah sengaja atau tidak, ia tidak mempedulikan baju dalamannya yang terlihat. Padahal pemilik toko tersebut adalah laki-laki. Saya menatapnya dengan rasa heran dan memendam dalam hati tanya saya

Hanya sejenak kami bertanya harga hape di sana. Tidak jauh kami meninggalkan toko tersebut, saya refleks berkata kepada kawan saya, “wanita itu kok nyaman saja ya berpakaian seperti itu, apa ia tidak merasa jengah jika pakaiannya itu dapat menimbulkan efek buruk bagi dirinya?”
Yang saya kira kawan saya akan mendukung saya dengan ikut tidak menyetujui cara pakaian wanita tersebut justru menjawab pertanyaan saya dengan lembut namun mampu menohok saya seketika.

“Kenapa kamu tidak berbicara langsung saja di depannya?” kata kawan saya.

Glekk!!

Perkataan yang lembut namun sangat dalam. Saya langsung tidak bereaksi apapun dan mencoba mengalihkan arah pembicaraan.

*****

Hingga kini, perkataan itu selalu terngiang dalam ingatan saya. Saya tidak lebih baik darinya jika saya belum mampu mengingatkannya tapi justru menggunjingnya dengan segala kekurangannya. Padahal bisa jadi orang yang saya gunjing itu belum tentu akan bernasib lebih buruk daripada saya di akhir hidupnya. Who knows?? Hanya Allah yang tahu pastinya.

Saya jadi teringat cerita kawan saya yang lain. Ia tidak akan pernah mau mendengarkan perkataan khadimatnya jika perkataannya itu mengandung unsur membicarakan keburukan orang lain. Alasannya, karena kawan saya tidak ingin ia dibicarakan orang lain di belakangnya.
It’s simple… Jangan menggigit jika tidak ingin digigit.

Saya juga tidak akan senang pastinya jika ada orang lain yang membicarakan saya di belakang saya. Saya harus belajar merasakan ketidaksukaan saya itu ketika saya mulai membicarakan orang lain di belakangnya. Harus bisa. Insya Allah…

Namun tidak semudah jika dalam praktek. Ada rasa tidak enak jika langsung berbicara di depan seseorang mengenai keburukannya. Meskipun membicarakan di belakangnya pun juga tidak lebih baik kecuali untuk maksud mencari jalan keluar dan bukan sengaja membuka aib. Jika pada akhirnya tidak bisa merubah dengan cara apapun, minimal dengan sebuah doa yang terukir tulus dari hati untuk perubahan saudara-saudara kita –juga kita sendiri- menjadi lebih baik. Aamiin…

Tidak mudah, sungguh tidak mudah. Tapi saya yakin, juga bukan perkara yang sulit. Dibalik ketertatihan kita -terutama saya- untuk terus belajar mengendalikan diri mengungkap sesuatu yang tidak pantas diungkap, akan menjadi sebuah ibadah.

Karena saya, kamu, mereka hanya sedang berjalan di roda kehidupan, sedang berjalan dalam lingkaran keimanan. Di sudut mana berdiri, insya Allah selalu berupaya untuk menjaga diri dalam balutan keridhaanNya. Baik buruknya kita semoga terbingkai dengan kata-kata yang indah. Dan baik buruknya kita semoga menjadi hikmah.

Apapun yang terlihat -meskipun tidak menyedapkan pandangan- tahanlah dalam hati jika belum mampu menyampaikannya langsung. Olahlah menjadi sebuah petunjuk bagi diri pribadi dan yang lainnya ke dalam wadah yang bermanfaat. Semoga segala usaha kita semua dalam menyampaikan kebaikan selalu dalam ridhaNya. Dan semoga segala tingkah laku kita selalu dalam pengawasanNya. Aamiin.

Allahua’lam.

Semoga Bermanfaat !!!


Salam SuksesBahagia,

Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Jumat, 01 Juni 2012

Nikmat dan Ujian Hidup


Ada ujian di balik nikmat dan ada nikmat di balik ujian

Begitulah kemarin saya membuat status di facebook. Lumayan, banyak yang like this (hehe). Ya, memang kita harus selalu mawas diri dan sadar, akan apapun yang Allah berikan. Mengapa? Karena akan selalu ada pesan terselubung, akan ada semacam pesan titipan dari Allah untuk kita. Hal ini adalah untuk meningkatkan kepekaan dan kesadaran tinggi, sehingga hidup kita senantiasa berada dalam limpahan kasih dan sayang-Nya.

Ada ujian di balik nikmat

Pernahkan Anda merasakan apa yang diinginkan Allah kabulkan? Kesehatan, rejeki yang melimpah, keluarga bahagia, karir pekerjaan terus naik, atau yang lainnya. Ingatlah, di sana ada ujian Allah. Apakah kita akan bersyukur karenanya? Atau malah melupakan Allah?

Ketika kesehatan Anda dapatkan, lalu Anda gunakan kesehatan itu untuk berbuat maksiat, maka Anda berhasil gagal mensyukuri ujian Allah.

Ketika rejeki Anda melimpah, dan Anda enggan besedekah, maka Anda berhasil gagal mensyukuri ujian Allah.

Ketika keluarga Anda bahagia sejahtera, namun Anda mengisi kehidupan keluarga dengan berfoya-foya bukan dengan kesyukuran, itupun Anda berhasil gagal dalam mensyukuri ujian Allah.

Dan, ketika karir Anda bagus di tempat kerja, tapi membuat Anda semakin congkak, sombong, dan angkuh, maka Anda juga berhasil gagal menyukuri ujian Allah.

Maka, sadarlah diri ketika nikmat itu hanya berupa titipan Allah yang harus kita kembalikan dalam bentuk kesyukuran. Menggunakan kesehatan untuk lebih tekun beribadah, bersedekah ketika rejeki melimpah, mengisi waktu dengan ketakwaan dalam keluarga, dan semakin santun ketika karir menanjak di tempat kerja, adalah bentuk syukur.

Ada nikmat di balik ujian

Beberapa hari kemarin, saya menemani istri yang masuk ruang UGD karena nyeri ulu hati dan sesak nafas yang diakibatkan naiknya asam lambung. Ini ujian. Betapa di saat saya dalam kondisi pas-pasan untuk urusan materi (uang), saya harus mengeluarkan uang lebih untuk istri berobat. Namun ternyata dengan sakitnya istri saya, saya semakin merasakan cinta yang mendalam, begitupun yang dirasakan istri. Akhirnya, kami berpelukan dan saling mengucap “I Love you, honey!!!“

Sungguh, disaat kami berpelukan seperti itu, saya merasakan ketenangan yang begitu dahsyat. Ada kenikmatan hidup yang takkan mampu terbayarkan oleh uang. Terima kasih Allah, sakit istri saya, menjadikan kami semakin mantap melangkah dalam keluarga sakinah.

Ketenangan cinta kasih dalam keluarga adalah nikmat yang besar, ya kan? Meskipun saya dapatkan ketika menemani istri sakit, tapi saya bersabar dan ikhlas atas ujian yang Allah berikan. Maka, ketika ada ujian, bersabar dan ikhlaslah, dan kita akan menemukan ketenangan jiwa yang tinggi.

Selain itu, ketika sakit, istri saya mengungkapkan bahwa ia lebih mampu mengisi jiwa dengan dzikir. Dan ia berazzam, setelah sehat, dzikirnya akan ditingkatkan. Ini nikmat hidup, ya kan? Nikmat hidup adalah di saat kita mampu menjadikan waktu-waktu yang terlewati itu bernilai dan bermakna dihadapan-Nya.

Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan keteguhan hati dan ketenangan jiwa kepada kita. Amiin …

Rasul bersabda:

Dari Abi yahya Shuhaib bin Sinan RA. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya menakjubkan keadaan orang mu’min, karena segala urusannya sangat baik baginya, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mu’min. Bila ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, yang demikian itu baik baginya. Dan bila ia tertimpa kesusahan ia juga bersabar, yang demikian itupun baik baginya”.



Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho
Mindsetter SuksesBahagia

View Details
 

Labels

Popular Posts