• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Jumat, 13 April 2012

Investasikan Hari Ini Untuk Surga di Akhirat

Jam 03.00 anak saya terbangun, menangis, minta ASI. Saya perhatikan anak saya yang sedang minum ASI. Hum, tak terbayangkan jika saya bisa memiliki anak secantik dia (hehehe). Lama, sengaja saya memuaskan hati ini dengan terus memandang wajah polos anak saya itu yang baru berusia 40 hari.

Lama memandangnya, tiba-tiba pikiran saya menerawang jauh perjalanan seorang manusia. Perjalan dari segumpal darah sebagaima difirmankan-Nya:

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. 

(Q.S. Al-Hajj [22]: 5)

Lalu terlahir dari seorang ibu hingga memiliki pendengaran, penglihatan, dan perasaan (hati).


Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

(Q.S. An-Nahl [16]: 78)

Hingga diwafatkan dan dibangkitkan-Nya. Allahu Akbar !!! 

Jika direnungkan, untuk apa kehidupan di dunia ini? Jika bukan untuk menjalankan amanah-Nya sebagai khalifah di muka bumi ini dan sebagai seorang hamba yang harus beribadah.

Jika direnungkan, untuk apa harta yang kita kejar-kejar? Jika bukan untuk diinfakkan dijalan-Nya sebagai berntuk jual-beli dengan-Nya. Disedekahkan bagi mereka yang berhak mendapatkannya. Namun banyak manusia yang terlena dengan harta yang dimilikinya. 

Jika direnungkan, untuk apa tahta atau jabatan yang kita dambakan? Jika bukan untuk menyeru manusia ke jalan yang diridhai-Nya. Namun ada saja manusia yang menjadikan tahtanya untuk kesenangannya bahkan menyengsarakan manusia lainnya.

Kita semua akan kembali kepada-Nya. Dimintai pertanggungjawabannya. Atas umur yang diberikan-Nya, harta yang dilimpahkan-Nya, dan nikmat-nikmat yang lainnya.

Kehidupan di dunia ini sementara. Benar ! Sangat sementara kalau tidak dikatakan sangat singkat. Kehidupan di dunia ini hanyalah permaian dan senda gurau belaka.

Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.

(Q.S. Al-Ankabut [29]: 64)

Sementara kehidupan sesungguhnya adalah di akhirat kelak. Sudahkah kita menyiapkan diri dengan berinvestasi amalan hasanah untuk hidup yang abadi?

Sahabat,

Hidup ini harus diorientasikan untuk akhirat. Buat visi kehidupan di akhirat. Hanya ada dua pilihan, kebahagiaan (SURGA) atau kesengsaraan (NERAKA). Tidak ada diantaranya. 

Disaat Allah memberikan kita kehidupan di hari ini, investasikan hari ini untuk kehidupan akhirat. Hiduplah hari ini saja. Sukseskan hari ini dengan menjadi hamba yang bertakwa. Tak perlu galau dengan hari kemarin yang penuh dengan kekurangan, atau risau dengan hari esok yang masih berbentuk bayangan. Kita hidup hanya hari ini.


Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita. Amiin ...




Salam SuksesBahagia !!!




Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Kamis, 12 April 2012

Hidup Sukses-Bahagia

Di setiap kelas training, saya selalu bertanya kepada para peserta, apa yang diinginkan dari kehidupan ini. Dan hampir semua menjawab, “Ingin sukses dan bahagia !” Lalu saya melanjutkan, apa indikasi kebahagiaan yang didapatkan? Sejenak, mereka diam berpikir, dan saya menebak, mereka sulit mendeskripsikan parameter kebahagiaan yang mereka dapatkan. Karena ketika mereka menjawab kebahagiaan itu dapat dirasakan ketika memiliki banyak uang, saya bertanya lagi, berapa banyak ? Satu juta, satu miliar, satu triliun, dan seterusnya, mereka geleng-geleng kepala. Ketika mereka mengatakan bahagia ketika memiliki pasangan hidup yang cantik atau ganteng, saya bertanya, bahagiakah Anda ketika pasangan Anda tersebut ada yang “mengganggu” ? Lagi-lagi mereka terdiam dan geleng-geleng kepala, berarti, mereka tidak mendapatkan kebahagiaan, mereka was-was dan takut. 

Lalu apa indikasi kebahagiaan dan dimanakah kebahagiaan itu ?

Harta kekayaan, pangkat (tahta), dan wanita (pasangan hidup) ternyata tidak dapat dijadikan sebagai indikator kebahagiaan seseorang. Akan ada selalu perasaan yang mengganjal, perasaan was-was atau takut, dan hidup-pun tidak tenang, tidak tenteram, tidak bahagia.

Ada seorang general manajer disebuah perusahaan, dalam satu bulan dia mendapatkan penghasilan lebih dari 20 juta. Namun hingga menginjak usia 65 tahun, dia belum juga menunaikan salah satu perintah Allah, yaitu menunaikan ibadah haji. Padahal secara perhitungan matematika, penghasilan satu bulannya itu, bisa saja mengantarkan diri dan keluarganya setiap tahun untuk beribadah haji ke Baitullah. Ketika ditanya mengapa belum juga menunaikan ibadah haji, dia menjawab,


“Bagaimana mungkin saya bisa naik haji. Pendapatan saya tidak cukup untuk menghidupi keluarga dalam satu bulan. Rekening listrik mencapai 2,5 juta-an, telephon 2,2 juta, untuk makan mencapai 5 juta, belum lagi biaya istri ke salon, anak-anak sekolah. Wah pokoknya tidak cukup untuk biaya naik haji saya. Saya juga pusing mengatur keuangan keluarga neeh. Selain itu, saya tidak punya waktu untuk pergi naik haji.”

Bahagiakah dia ? Tidak. Dia tidak merasakan kebahagiaan. Dia selalu merasa kekurangan. Bahkah untuk kebutuhan spiritual ibadah haji, yang padahal dengan ibadah tersebut, manusia akan menemukan jati dirinya dengan segala kesadaran tingkat tinggi dan merasa dekat dengan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, dia tidak bisa mengalokasikannya.

Lalu ada seorang Guru PNS yang gaji sebulannya hanya mencapai 2 juta. Diusianya yang 65 tahun, dia sudah menunaikan ibadah haji ke Baitullah. Anak sulungnya sedang menyelesaikan desertasi pada Program Magister Manajemen. Anak kedua baru saja menyelesaikan program strata satunya, dan yang bungsu baru masuk di perguruan tinggi ternama. Ketika ditanya, ko bisa dengan pendapatan yang pas-pasan mampu menunaikan ibadah haji dan menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang tinggi? Dia menjawab:

“Saya punya visi hidup untuk hidup sukses dan bahagia. Visi hidup saya ini selalu saya pegang teguh pada saat dan kondisi apapun. Hidup saya sukses, ketika mampu menjadi hamba Tuhan yang taat dengan menjalankan apa yang disariatkannya, seperti ibadah haji sebagai rukun yang kelima dari agama yang saya anut. Saya bahagia ketika mampu membahagiakan orang yang dicintai seperti istri dan anak-anak. Sehingga sebisa mungkin saya membimbing anak-anak saya untuk menjadi manusia tangguh dengan memfasilitasinya untuk mengenyam pendidikan di jenjang yang lebih tin ggi. Adapun penghasilan yang sepertinya tidak cukup untuk menafkahi keluarga apalagi sampai menunaikan ibadah haji, saya jadikan penghasilan tersebut sebagai sarana untuk mendulang rizki lebih banyak lagi. 

Maksudnya adalah saya selalu menginfakkan 10% dari penghasilan saya. Saya yakin Tuhan akan membalasnya sebanyak 700 kali lipat. Memang tidak dalam bentuk uang langsung, tapi coba lihat, anak sulung saya mampu menyelesaikan S2 nya karena dia  mendapatkan beasiswa prestasi. Begitu juga yang kedua dan ketiga, mereka mendapatkan beasiswa, baik dari pemerintah atau daru perusahaan sponsor. Ini artinya, prestasi yang diperoleh anak-anak saya adalah wujud dari pahala 700 kali lipat yang Tuhan anugerahkan kepada saya. “

“Sementara untuk menunaikan ibadah haji, saya sudah menyiapkan segala sesuatunya sejak menikah dengan selalu menabung minimal satu bulan 10 ribu. Dan tahun kemarin, uang tabungan saya terkumpul cukup untuk biaya akomodasi dan segala keperluan selama barada di Kota Makkah.”

Apakah dia bahagia? Bahagia! sebagaimana telah disebutkannya, bahwa ketika dia mampu mengantarkan anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi, itulah kebahagiaannya. Disamping itu, dia juga mengatakan dirinya sukses, sukses sebagai hamba Tuhan yang taat.

Dari kisah dua orang di atas, ternyata sukses dan bahagia berada di dalam hati. Maka tidak salah ketika ada sebuah ungkapan doa,”Ya Allah, jadikanlah dunia dalam genggaman tanganku, tapi jangan Kau masukkan ke dalam hatiku.” Karena ketika dunia masuk ke dalam hati, akan sulit merasakan kesuksesan dan kebahagiaan. Tidak akan pernah merasa puas. Selalu merasa kurang dan kurang. Rasul bersabda, “Ketika manusia mendapatkan dua lembah emas, maka dia akan berharap untuk mendapatkan lembah emas yang ke tiga.” Berbeda ketika dunia berhenti sampai di dalam genggaman tangan, hati akan tersucikan. Dan munculah benih kesyukuran dan kesabaran, sampai pada akhirnya, hati akan merasa tenteram dan hidup-pun akan terasa lebih sukses.

Kesadaran akan pentingnya hati yang dipenuhi oleh kesyukuran dan kesabaran perlu dimiliki oleh kita yang menginginkan hidup SuksesBahagia dunia dan akhirat, karena memang tujuan kita hidup di dunia adalah untuk mendapatkan kebahagiaan.

Syukur, merupakan ungkapan terima kasih kepada Tuhan. Insan yang bersyukur menyatakan diri mereka merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan pengharapan baik di masa depan. Mereka juga mengalami kemurungan dan tekanan batin dengan kadar rendah.

Pribadi-pribadi yang bersyukur juga memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting pada hal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.

Yang jelas, insan yang pandai bersyukur akan mendapatkan tambahan nikmat dari Tuhan serta jauh dari azab dan murka-Nya, inilah kemudian saya mengatakan bahwa mereka adalah insan yang SUKSES. Hal ini diungkapkan dalam Al-Quran sebagai berikut :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Al Quran, Ibrahim, 14:7).

Sementara sifat kesyukuran mengantarkan kita kepada kesuksesan, maka sifat sabar akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan.

Ada banyak definisi mengenai sabar. Dari bebrapa referensi yang saya dapatkan, sedikitnya ada tujuh definisi mengenai sabar, yaitu sebagai berikut:

  1. Sabar adalah menunda respons, tidak langsung nyambar. Ini juga kunci dari kecerdasan emosi. Stimulus yang masuk ke thalamus untuk masuk neokortex butuh waktu sekitar 6 detik. Kalau belum 6 detik akan dibajak oleh amikdala (pusat emosi di otak )
  2. Sabar adalah menyatukan badan dan pikiran di satu tempat.
  3. Sabar yaitu kata kerja aktif bukan pasif. Sabar sangat cocok dalam dunia bisnis, sabar itu aktif bukan berdiam diri dan dilakukan sampai berhasil. Ketika ada stimulus, jangan langsung dikasih respons kita pause dulu terutama pada stimulus yang berbahaya, yang menyebabkan kita marah. Rumusnya adalah SPP : STOP, PIKIR, PILIH.
  4. Sabar adalah menyesuaikan tempo kita dengan tempo orang lain.
  5. Sabar adalah menikmati prosesnya tanpa terganggu hasil akhir. Orang yang sabar adalah orang yang menjalani prosesnya. Yang lebih nikmat dalam hidup ini adalah prosesnya bukan hasilnya. Jangan terpaku pada hasil, karena hasil itu di luar kita, itu adalah urusan Tuhan. Sabar jangan hanya saat susah tapi saat senang juga. Orang sabar pasti kaya, minimal kaya bathin.
  6. Sabar adalah hidup selaras dengan hukum alam, bisa jalan sesuai dengan tarian alam semesta, ritme alam semesta. Kalau kita grusa - grusu yang harus dilakukan adalah DUDUK MEDITASI (selama kurang lebih 10 menit ) fokuskan pada nafas kita.
  7. Sabar yakni melakukan SATU HAL DI SATU WAKTU.
Dari tujuh pengertian di atas, pengertian sabar yang maknanya menunjukkan sebuah kebahagiaan adalah pengertian yang ke-lima, bahwa sabar dalam menikmati setiap proses kehidupan. Sebab, ketika kita tidak mampu menikmati proses perjalanan kehidupan ini, kebahagiaan akan sulit didapatkan.

Insan yang mampu menikmati proses kehidupan adalah insan yang mengimani ke-Mahaan Allah SWT. Dengan sifat ini, dia akan semakin dekat dengan Tuhannya, dan hasil dari kedekatannya itu, Tuhan akan memberikan ketenangan hati. Ketenangan hati inilah yang kemudian akan mendatangkan rasa kebahagiaan, karena kegelisahan sirna dari hidup dan kehidupannya.


Salam SuksesBahagia !!! 


Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Sabtu, 07 April 2012

Payung Kehidupan

Sedia payung sebelum hujan. Peribahasa ini mengajarkan kita untuk melakukan yang namanya Manajemen Antisipasi. Ya, di tengah ketidakpastiannya hidup, pasti akan ada perubahan-perubahan yang memerlukan adanya sebuah persiapan-persiapan cerdas sehingga tercipta hidup yang pasti. Aha, bingung ya ...

Masih berbicara mengenai payung. Payung digunakan bukan untuk menghentikan hujan, namun untuk membuat kita bisa terus berjalan dibawah derasnya air hujan yang turun.

Hm, tampaknya, frase di atas memiliki makna filosofi yang sangat dalam. Apakah itu? Itulah kehidupan dengan segala rahmat dan masalah-masalahnya. Maksudnya?


Dalam kehidupan, kita pasti akan mendapatkan yang namanya rahmat atau nikmat dari-Nya, dan memang kita sangat memerlukannya. Rahmat atau nikmat tersebut bisa kita analogikan sebagai 'hujan', sehingga kita memerlukan payung agar bisa terus 'berjalan'. Payungnya adalah sifat syukur. Tanpa kesyukuran, nikmat bisa menjadi laknat. Lihatlah kisah Qarun semasa Nabi Musa a.s. yang karena tiadanya ia bersyukur, nikmat yang dimilikinya (berupa harta yang melimpah) menjadikan ia terkubur mati didalamnya (artikel selengkapnya disini).

Begitu juga ketika masalah-masalah kehidupan kita analogkan sebagai 'hujan', maka kita juga memerlukan payung didalamnya, yaitu sifat sabar. Kesabaran tidak membuat masalah kita berhenti, namun ia menjadikan kita bisa terus menikmati hidup dan kehidupan ini. Banyak kasus orang yang kurang bersabar dalam hidupnya ketika menghadapi masalah, memutuskan diri untuk mengakhiri dirinya dengan bunuh diri. Artinya, ia tidak bisa 'berjalan' di kehidupan ini. Padahal, Allah pasti akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah kita, dengan catatan kita cukup bersabar dan tetap menyertakan-Nya dalam menghadapi masalah-masalah itu.

Sahabat,

Ada sudut pandang lain tentang frase di atas tadi. Yaitu, payung kita analogikan sebagai masalah itu sendiri dan hujan sebagai kehidupan yang ktia jalani.

Kadang, kita memerlukan masalah untuk terus bisa menjalani hidup dan kehidupan. Kadang, kita memerlukan masalah untuk bisa lebih bijak dalam bertindak. Yang pasti, masalah (seharusnya) tidak menjadikan hidup kita berhenti, namun justru semakin terpacu untuk bangkit dan meraih apa yang diharapkan.




Salam SuksesBahagia !!!



Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia


View Details

Kamis, 05 April 2012

Wahai Masalah, Aku Punya Allah Yang Maha Besar

Ucapkanlah, "Wahai masalah, aku punya Allah Yang Maha Besar!" bukan "Ya Allah, masalahku besar sekali."

Banyak diantara kita merasa hidup ini sempit. Sungguh, sempitnya hidup karena kita memenuhi hidup dengan 'masalah' itu sendiri. Masalah adalah masalah, dan memikirkan masalah itu sendiri (dengan mengeluh-kesah) akan menjadikan semakin senangnya masalah menggerayangi pikiran kita. Maka, letakkan masalahnya dengan segera.

Cerita di bawah ini, mengajari kita tentang pentingnya segera meletakkan masalah dalam kehidupan. Mari kita simak bersama.

Seorang dosen sedang memberikan kuliah tentang Manajemen Stres. Dia mengangkat segelas air dan seraya bertanya kepada mahasiswanya. “Seberapa berat anda kira segelas air ini? Siapa yang mampu mengangkatnya?” Serentak seluruh mahasiswa tertawa. “Wah, enteng, Paling-paling 20 gram sampai 30 gram”. Riuh suara kelas dengan wajah mahasiswa yang sedikit mencemooh.
Mulailah pak Dosen menjelaskan, “Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan terasa sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat”.

Aha, silahkan Anda simpulkan sendiri hikmahnya.

Dan, satu hal lagi yang harus kita lakukan dalam menghadapi masalah adalah segera fokus kepada Sumber Pemecah Masalah, yaitu Allah SWT. Dengan memfokuskan diri kepada-Nya, beban masalah dan jalan keluarnya akan terasa lebih barakah. Ya, karena atas ijin dan ridho-Nya.

Sungguh, masalah-masalah kita terlalu kecil dibandingkan dengan-Nya. Maka, fokuslah kepada-Nya dengan berkata, "Wahai masalah, aku punya Allah Yang Maha Besar!!!"


Salam SuksesBahagia

Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia 

View Details

Selasa, 03 April 2012

Sepak Bola dan Kehidupan (bag. 2, selesai)

Pada artikel kemarin, kita mengungkap pelajaran terselubung dari pertandingan sepak bola, yaitu bertapa berharganya waktu dan pentingnya memiliki goalhidup. Nah, kali ini, kita ungkap kembali pelajaran rahasia lainnya.

Dalam usaha menciptakan goal, pemain bola senantiasa bergerak menciptakan peluang atau mengoptimalkan setiap peluang yang ada, dan berusaha mengarahkan bola ke arah gawang lawan, melalui sebuah kerja sama tim yang cantik.

Begitulah dalam pencapaian tujuan hidup kita. Kita harus selalu bergerak, bergerak ke arah tujuan yang ingin kita capai. Bergerak menunjukkan sebuah kehidupan itu sendiri. Dan, kemampuan kita dalam menghidupkan kehidupan seperti yang kita inginkan, adalah makna kesuksesan sebenarnya.

Kita harus menciptakan peluang dan mengoptimalkan peluang yang bertebaran disekeliling kita. Dengan 'bergerak' peluang akan tercipta dan peluang yang ada pun tidak terbuang sia-sia.

Namun bergerak 'fisik' tidaklah cukup. Perlu adanya gerak jiwa. Ya, gerak jiwa, sebagaimana pesepak-bola yang tidak hanya mengandalkan gerakan fisik untuk menciptakan goal, tapi mereka juga menggunakan insting, feeling, dan perhitungan cermat untuk sebuah tendangan, atau melakukan pengoperan bola ke rekan yang lain. Maka kita juga perlu menggerakan jiwa, sehingga akan lebih menguatkan gerakan fisik kita dalam upaya pencapaian tujuan hidup.
Contoh gerak jiwa yang bisa kita lakukan adalah bagaimana kita menggerakan pikiran dan hati kita dari kutub negatif ke kutub positif. Lho kok? Ya, hal ini sangatlah penting. Atau juga bagaimana kita mengaktifkan gerakan jiwa berupa niat (nawaitu). Niat adalah titik positif awal untuk 'memudahlan' kita menjalani proses menghidupkan kehidupan seperti yang kita inginkan.

Akhirnya, gerakan jiwa sebenarnya jauh lebih penting dalam pencapaian tujuan hidup. Gerakan fisik tanpa disokong oleh gerakan jiwa, sia-sia, karena tidak ada makna. Namun gerakan jiwa yang tanpa gerakan fisik, bisa mengubah segalanya. Kok bisa? Tengoklah sosok Syekh Ahmad Yaasin, pemimpin pergerakan muslim Palestina. Ia cacat fisik, namun ketika jiwanya bergerak, ia mampu menggerakan orang-orang yang ada disekitarnya.

Sementara kita adalah mahluk sosial, maka tentulah kiranya kita menyadari benar bahwa tujuan tercapai ketika kita mampu bersinergi dengan manusia yang lain. Inilah hakikat kerja sama dalam kehidupan, melakukan penyelarasan diri terhadap sekelilingnya. Menyelaraskan diri berarti melakukan efek sinergi dalam kehidupan. Kita memerlukan orang lain untuk mencapai tujuan hidup (baca: kesuksesan). Ada peran orang-orang yang berada disekeliling kita.

Ada pelanggaran, ada kartu yang dikeluarkan wasit (juru adil). Pelanggaran ringan, peringatan lisan hingga kartu kuning, dan pelanggaran berat adalah kartu merah.

Hidup yang Allah anugerahkan ini, memiliki aturan mainnya. Itulah hukum Allah. Ada perintah, ada larangan. Maka ketika kita 'melanggar' aturan hukum Allah, kita akan diberi sanksi oleh-Nya. Ketika pelanggaran kecil kita lakukan, maka kita mendapatkan kartu kuning. Dalam konteks kehidupan keseharian kita, kartu kuning itu berwujud 'peringatan-peringatan' dari-Nya. Bisa peringatan yang langsung menimpa kita, atau peringatan yang tercermin dalam kejadian yang tidak diinginkan disekitar kita, misalkan banjir, tanah longsor, gunung meletus, dlsb. Dan peringatan yang langsung menimpa kita, seperti sakit, kehilangan benda berharga yang dimiliki (karena kurang bersedekah, misalkan) dlsb.

Maka, jika pelanggaran berat telah kita lakukan, misalkan kita menyekutukan-Nya, maka kita mendapat kartu merah langsung. Ya kartu merah atau larangan untuk masuk surga-Nya.

Selalu ada hadangan dan tekel dari musuh ketika pesepak-bola menggiring bola mendekati goal (gawang lawan).

Itulah proses semakin dekatnya kita dengan tujuan hidup yang telah kita tentukan. Akan ada selalu masalah, hambatan, tantangan, ujian, atau kegagalan yang mengiringinya. Semakin dekat dengan tujuan, semakin besar tantangan dan hambatannya. Persis ketika penghadang yang paling tangguh (stopper atau back). Namun, kita harus mampu untuk bangkit kembali, sebagaimana pula mereka pesepak-bola yang akan selalu bangkit lagi ketika dijatuhkan oleh lawan-lawannya, sehingga bisa mendekati gawang lawan, dan kemudian mencetakkan goal. Bangkit, bangkit, dan bangkit selalu disaat hambatan datang melanda.

Sahabat,

Ada waktu tambahan (injury time atau additional time) dalam pertandingan sepak bola, dan para pemain semakin termotivasi untuk mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Usia tambahan mungkin tidak ada dalam kamus kehidupan manusia. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah bahwa waktu-waktu kita ini adalah waktu tambahan yang Allah berikan. Artinya, spirit injury time harus kita miliki, sebagai upaya kita untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna.

Hal ini senada dengan hadits Nabi yang pada intinya mengajarkan kita untuk tidak berpatah semangat untuk berbuat baik bagi sesama. Kalaupun esok akan kiamat, hari ini kita tetap 'menanam' pohon kebaikan. Tentu kita ingin mengakhiri hidup dengan julukan khusnul khatimah, ya kan?

Yang keluar sebagai pemenang, adalah tim yang memiliki lebih banyak goal, dan layak mendapatkan trophy kemenangan.

Trophy kemenangan hidup adalah hidup dalam pelukan surga-Nya. Merekalah yang memiliki banyak amalan hasanah. Makna lainnya, trophy kemenangan hidup adalah kesuksesan. Dan yang mendapatkannya adalah mereka yang banyak menghidupkan goal dalam hidupnya.

Sahabat,

Itulah pelajaran rahasia atau terselubung dari pertandingan sepak bola. Semoga kita menjadi lebih mawas diri dalam melangkah, melangkah menuju tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu hidup dalam dekapan surga-Nya. Amiin ...



Salam SuksesBahagia !!!



Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia

View Details

Senin, 02 April 2012

Sepak Bola dan Kehidupan (bag. 1)

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari pertandingan sepak bola. Ya, kita tidak hanya menikmati indahnya tarian artis sepak bola di lapangan hijau, namun dibalik semua itu, ada pelajaran tersembunyi, yang hampir kita tidak mengetahuinya.

Pada kesempatan ini, saya akan mencoba menguak pelajaran tersembunyi dari pertandingan sepak bola. Sehingga dengannya, diharapkan kita tidak hanya menikmati tontonannya belaka, tetapi tuntunannya juga.

Pertandingan sepak bola, waktunya telah ditentukan, yaitu 90 menit (2 X 45 menit).

Kehidupan kita-pun, juga telah ditentukan waktunya oleh Allah. Hanya saja, kita tidak diberitakan dengan detail, berapa waktu kita hidup di dunia ini. Tapi justru kerahasiaan ini adalah nikmat yang tak terkira. Bayangkan jika, Anda mengetahui kalaulah hidup Anda tinggal 1 jam lagi, tentu entah perasaan apa yang akan berkecamuk dalam diri Anda. Anda pasti ‘galau’ tak karuan. Yang katanya sebagian orang, jika kita mengetahui kapan kita dipanggil-Nya, maka kita akan termotivasi untuk memperbanyak ibadah, menurut saya itu adalah keliru. Lihat saja, sahabat Anda yang akan melangsungkan akad nikah. Apakah akad nikah adalah sesuatu yang membahagiakan? Sudah pasti, ya kan? Nah, bagaimana perasaan sahabat Anda itu? Saya pun pernah merasakan ‘kegalauan’ yang tak terkira ketika akan melangsungkan akad nikah. Apalagi jika itu adalah kematian, yang kadang kita 'menakutinya'.

Jadi, pen-rahasia-an waktu hidup kita di dunia adalah nikmat yang besar. Namun meski demikian, Allah telah memberikan rambu-rambunya, yaitu kalaulah kehidupan di dunia ini ‘sementara’.
Kembali ke sepak bola. Para pemain sepak bola, dengan waktu yang tersedia, mereka berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertandingannya. Waktu satu detik pun bagi mereka sangatlah berharga. Nah, sekarang tengoklah diri kita sendiri. Kita tidak tahu kapan waktu kita berakhir. Maka, masih pantaskah jika kita berleha-leha, bersantai, bermaksiat, dan tidak mengoptimalkan waktu yang Allah berikan ‘sementara’ ini?

Hmmm, saya jadi ciut ketika melihat diri ini. Jujur, begitu banyak menit-menit yang terlewati begitu saja tanpa sesuatu yang berarti didalamnya. Padahal, kita akan lebih dimintai pertanggungjawabannya atas waktu yang kita lewati ini.

Pemain sepak bola, sebanyak mungkin berusaha untuk mencetak goal ke gawang lawan.

Dengan waktu terbatasnya, pesepak bola menargetkan sebanyak-banyaknya goal untuk kemenangan timnya. Nah, waktu kita yang tak terbatas terbatasnya ini, berapa goal yang ingin kita ciptakan?

Goal artinya tujuan. Maka, tujuan apa yang ingin kita raih sebagai bentuk kemenangan kehidupan kita di dunia ini? Atau jangan-jangan kita tidak mengetahui tujuan hidup kita untuk apa. Ingat ! Waktu kita tak terbatas terbatasnya. Tentukan goal hidup ini sekarang juga !!!

Sahabat,

Pelajaran terlesulubung apa lagi yang ada didalamnya?
Kita lanjutkan di artikel selanjutnya ya …


Salam SuksesBahagia !!!


Imam Nugroho | MSB
Mindsetter SuksesBahagia

View Details
 

Labels

Popular Posts