• Blogger widget
  • Nice work
  • Aditya Subawa
Recent Posts

Kamis, 09 Februari 2012

TARBIYAH FITH-THARIQ (Pelajaran Sepanjang Perjalanan)



Lampu merah menyala.
Ku hentikan laju sepeda motorku. Saat itu di perempatan jalan BKR dengan Moh. Toha (Tegal Lega). Bagi sebagian orang, lampu merah adalah musibah, karena harus menghentikan laju kendaraan sementara mereka mungkin harus segera bergegas ke kantor atau tempat kerja. Tapi buatku, lampu merah kujadikan ajang untuk istirahat sejenak, mengembalikan energi yang terkuras (mengendarai kendaraan juga melelahkan).
Tiba-tiba ada orang tua mendekatiku dengan mengasongkan peci kosongnya, meminta-minta. ”Assalamu’alaikum...”ucapnya. Aku jawab dalam hati sambil mengangkat tangan kanan pertanda aku mohon maaf karena tidak akan memberikan uang. Dia-pun berlalu dan mendekati pengendara yang lain. Sepintas ku melihat, orang-orang pun mengangkat tangannya, dan itu pertanda dia tidak mendapatkan uang recehan.

”Orang tua yang malas ya Mas,,” tiba-tiba pengendara sebelahku mengajak berbicara. Aku hanya tersenyum.
”Ucapan Assalamu’alaikum itu untuk menebarkan salam, bukan untuk meminta-minta,” lanjutnya.
”Yah begitulah pak, potret masyarakat kita.” jawabku lirih.
Sejenak pikiranku menerawang jauh. Masih banyak orang-orang tua yang sehari-hari hanya meminta-minta dijalanan. Belum lagi yang masih anak-anak bahkan balita. Sungguh ironis negara yang sudah merdeka lebih dari 60 tahun, ternyata masyarakatnya masih bermental pengemis. Memalukan!!! Sehingga, kadang aku tidak pernah memberikan uang kepada pengemis jalanan. Bukan karena pelit atau tidak mau sedekah, alangkah lebih baik jika aku sumbangkan ke lembaga khusus yang menangani orang-orang fakir miskin, seperti : Rumah Zakat, Dompet Du’afa, Rumah Yatim dll.
Kuhela nafas panjang, seakan ingin menghilangkan kegundahan di hati...
Sementara lampu merah masih menyala.....
Dari kejauhan terlihat orang tua yang sedang menarik gerobak yang berisi barang-barang bekas. Tampak keringat telah membanjiri tubuhnya meskipun suasana masih pagi. Dari belakang, seorang ibu tua (mungkin istrinya) mendorong gerobak tersebut, sehingga pak tua yang menariknya tidak terlalu kepayahan. Bergetar hati ini menyaksikan pemandangan yang begitu mengharukan dan manakjubkan. Kerja keras dan cinta!!!
”Perjuangan hidup ya Mas,” lagi-lagi pengendara disebelahku mengajak bicara.
”Setuju pak, sangat jauh bila dibandingkan dengan peminta tadi,” jawabku.
”Mereka lebih berharga dan mulia. Mereka mendapatkan rejeki dari hasil keringat sendiri, tidak dengan minta-minta,” tambahnya
”Hmm...,” aku hanya menganggukkan kepala.

Untuk yang ke-dua kali pikiranku menerawang jauh. Setelah melihat perjuangan seorang pak tua untuk menyambung hidup, pagi-pagi sudah berkeringat menarik gerobak mencari barang-barang bekas. Dengan tidak melihat dari mana mereka mendapatkan barang-barang bekas itu, sungguh pelajaran yang sangat berharga buatku. Aku jadi malu dengan diriku yang kadang merasa malas ketika hendak pergi bekerja. Padahal bila dibandingkan dengan pak tua itu, sungguh jauh kapasitas pekerjaannya. Tapi sungguh aku melihat sebuah motivasi yang besar dari pak tua itu.
Kemudian dengan istri pak tua yang membantu mendorong gerobak, sehingga pak tua tidak kepayahan, menunjukkan cinta yang tulus dari seorang istri terhadap suaminya. Mereka bersama-sama membangun rumah tengga dalam segala hal. Cinta sejati. Memang, cinta memberikan kekuatan yang maha dahsyat. Cinta memberikan tenaga baru bagi orang yang merasakan dan mendapatkannya. Cinta membangkitkan keikhlasan. Maka benar kata para pujangga, hiasi hidup ini dengan CINTA. Dan memang, Tuhan menciptakan alam ini dengan segala isinya juga dengan CINTA. Terlebih Cinta Tuhan kepada manusia sungguh tak terbatas. Dan sudahkan kita membalas cinta Tuhan kepada kita ????
Lampu hijau menyala.
Perlahan aku jalankan kendaraanku. Aku hentikan pikiranku yang terus melayang, untuk berkonsentrasi dalam mengendarai sepeda motorku.
Sahabat ,,,,,
Dua potret jalanan yang baru saja aku alami, sungguh banyak mengandung hikmah dan dapat kita jadikan cermin diri kita. Kita seperti apa sekarang ??

Apakah kita tergolong orang yang bermental ”peminta”, bermalasan tapi ingin mendapatkan sesuatu? Tanyakan pada diri ini.
Sifat dasar yang dimiliki para peminta-minta adalah sifat MALAS. Malas akan membunuh potensi yang dimiliki. Orang jadi tidak kreatif apalagi sampai inovatif. Hidupnya jadi tidak bermanfaat. Dan yang pasti, sifat malas keluar dari fitrah penciptaan manusia dan tidak bertanggungjawab dengan kehidupannya. Malas akan mendatangkan angan yang tiada batas, sehingga orang akan menghalalkan segara cara demi meraih apa yang diangankannya. Dengan demikian malas akan menyuburkan sifat-sifat tercela lainnya. Mencuri, merampok, sampai membunuh.
Hindari malas dengan bersegera melakukan tanpa menunda. Yakin dengan potensi yang dimiliki. Bangkitkan rasa tanggungjawab terhadap kehidupan ini. Ingat, Tuhan tidak sertamerta menciptakan kita, kalau pada akhirnya kita tidak dimintai pertanggungjawaban. Kita pasti akan dimintai pertanggungjawaban atas kehidupan yang telah Tuhan berikan. Dan kita tidak bisa mengelak dari pengawasan Tuhan Yang Maha Melihat. Setiap gerak-gerik kita per detik, akan terpantau oleh Tuhan dan nanti akan dipertontonkan kepada kita kelak di yaumul akhir. Apakah kita mau, ketika Allah memperlihatkan perjalanan hidup kita, kita sedang bermalasan dan akhirnya mencuri, membunuhm atau perbuatan keji lainnya????

Sahabat ,,,,
Jadilah kita seperti pak tua yang selalu bersemangat menjemput rizki yang telah Tuhan tentukan. Sungguh, betapa dia sosok orang tua yang bertanggungjawab dengan peri kehidupannya. Dia tidak menyia-nyiakan potensi yang Allah berikan. Dia mensyukuri nikmat yang Allah berikan.
Ingat, salah satu wujud bersyukur kita atas nikmat yang Allah berikan adalah kita mampu mempergunakan setiap waktu yang terlewati untuk sesuatu yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri atau untuk orang lain. Kita akan menjadi bintang jika kita melewati setiap detik kita dengan amalan hasanah yang bermanfaat.
Tidak juga kita menyerah dengan kehidupan ini. Tidaklah Tuhan menguji kita sesaat kita menyatakan diri percaya padanya. Iman ini perlu di uji. Keyakinan ini perlu bukti. Dan ujian dan cobaan adalah cara Tuhan mengevaluasi kadar keimanan kita. Bukankah orang yang pacaran juga suka menguji pasangannya???
Lari dari ujian dan cobaan adalah mental orang-orang MUNAFIK. Menghindar dari masalah (yang kadang belum tentu adanya) adalah mental orang PENGECUT.
Terakhir, hiasi hidup ini dengan cinta yang tulus, cinta kepada Tuhan, cinta kepada keluarga, cinta kepada sesama. Dengan cinta kita akan mendapatkan kekuatan yang maha dahsyat.
Sahabat ,,,,
Masih banyak pelajaran-pelajaran lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ini. Maka benar ketika Allah berfirman, ”Iqra, bismirabbikalladzi khalaq”
Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan (Al-Alaq : 1)
Bacalah ayat-ayat kauniyah dan kauliyah Allah, di alam kehidupan ini.




NUGROHO, Imam
Mindsetter Suksesbahagia



sumber gambar : http://kfk.kompas.com

View Details

Selasa, 07 Februari 2012

Tetaplah SETIA !!!



Mungkin kisah yang terjadi di kota Amman, Jordania, tergolong langka, unik sekaligus mengundang geli. Seorang pria Jordania yang bernama Bakr Melhem merasa kesepian karena hidup terpisah dengan istrinya yang berada di luar kota. 

Pria ini iseng-iseng “berselingkuh” dengan wanita lain dalam dunia maya melalui chatroom (ruang ngobrol) di internet. Setelah tiga bulan saling chatting, mereka benar-benar merasa cocok dan saling jatuh cinta. Bahkan sepasang kekasih di dunia maya ini berniat menikah. Mereka lantas membuat janji untuk bertemu di sebuah tempat. 

Namun saat mereka berdua bertemu, mereka terkejut dan terkesima. Bukannya apa-apa, tapi ternyata “wanita selingkuhan” di internet ini adalah istrinya sendiri. Kontan saja mereka berdua saling menuduh bahwa ia pasangan yang tidak setia. Rencana perkawinanpun batal dan sebaliknya mereka berdua sepakat untuk cerai karena satu sama lain tidak setia!

Ada-ada saja. So, setialah pada pasangan Anda. Bangun kehidupan rumahtangga SuksesBahagia, dengan landasan TAQWA  !!!


Salam SuksesBahagia !!!


IMAM NUGROHO
Mindsetter SuksesBahagia

follow me @imamkamal

View Details

Senin, 06 Februari 2012

Belajar Kehidupan kepada Muhammad SAW



Peringatan Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad, dirayakan dengan beragam acara dan kegiatan. Ada yang melakukan ‘perenungan’ dengan tabligh akbar (tema biasanya adalah meneladani ahlak Rasulullah), shalawatan (barjanji, yaitu membacakan kisah kehidupan Rasulullah. Meskipun pada pelaksanaannya, banyak diantara jamaah yang tidak mengerti atau memahaminya), atau acara-acara lainnya sesuai dengan adat warga setempat (dalih pelaksanaannya adalah melestarikan “kearifan local”). Namun yang paling ‘memalukan’ dan sepertinya hampir setiap tahun terjadi adalah kericuhan dikala acara perebutan makanan yang disediakan oleh panitia (nasi tumpeng). Bahkan diberitakan kemarin, nenek-nenek sampai terinjak dan jatuh tersungkur hanya demi ‘ngalap berkah’ dari makanan yang didoakan.

Ah, jika Rasul mulia mengetahui hal itu, tentu beliau akan sangat gerah. Selain peringatan ‘ulang tahun’ tidak disyariatkan, peringatan-peringatan didaerah adalah bentuk akulturasi budaya. Ada kesan, Islam itu bisa ‘dibiaskan’, yang penting warga senang. Saya faham betul dengan ‘fikih dakwah’ yang dilakukan oleh para Wali (terutama di Jawa) yang dikondisikan dengan budaya setempat. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana dengan generasi pendakwah sekarang ?

Sudahlah, sepertinya tidak perlu untuk mencari ‘kambing hitam’. Toh tanggal kelahiran Rasul juga masih banyak perdebatan. Namun, mengenang sosok Nabi Muhammad adalah sesuatu yang harus selalu dilakukan, tanpa menunggu tanggal kelahirannya. Termasuk ‘meneladani ahlak Rasulullah’ pun tidak harus di bulan Rabi’ul Awwal ini. Setiap saat, setiap waktu, kapanpun, dan dimanapun, kita sebagai umat muslim, mengenang dan meneladani untuk kemudian diaplikasikan bagaimana cara Rasulullah ‘hidup’ di dunia ini.

Sahabat,

Mari kita selalu ‘mengkiblatkan’ diri kita kepada Rasulullah Muhammad SAW. Mengkiblatkan diri dalam arti bagaimana seyogyanya kita menjalani kehidupan ini. Sungguh, tidak hanya kehidupan yang bahagia yang Rasul jalani, kehidupan penuh kegetiran pun pernah beliau alami. Maka, temukan caranya bagaimana beluai menjalani kegetiran-kegetiran hidup, yang kadang juga menghantui pikiran kita. Pada akhirnya, kita akan menjadi ummatnya yang ‘sempurna’. Sempurna dalah ikhtiar, sempurna dalam tawakal, sempurna dalam kesabaran, sempurna dalam keikhlasan, sempurna dalam menyikapi setiap permasalahan untuk tetap menjadi indah.

Sahabat,

Kenanglah saat beliau berdakwah di Thaif. Bagaimana beliau mampu memiliki kesempurnaan dalam menjadikan hidup SuksesBahagia. Kisah di Thaif adalah kisah yang begitu menggetirkan, melebihi kegetiran di perang Uhud.

Saat itu, kaum Tsaqif melempari Rasulullah SAW, sehingga kakinya terluka. Tindakan brutal penduduk Thaif ini membuat Zaid bin Haritsah membelanya dan melindunginya, tapi kepalanya juga terluka akibat terkena lemparan batu. Akhirnya, Rasulullah berlindung di kebun milik ‘Utbah bin Rabi’ah.

Saat itu, Rasulullah SAW berdoa,

“Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang Maha Pengasih ladi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?

Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akherat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”

Dari do’a ini tentu semua begitu memahami betapa beratnya cobaan Rasulullah SAW saat itu dalam menghadapi penganiayaan dengan penuh ridho, ikhlas dan sabar, serta tidak pernah berputus asa. Seperti sejumlah cerita yang diriwayatkan kembali Ulama Hadist terkenal, Imam Bukhori dan Muslim dari Asiyah RA (istri Rasulullah SAW).

Ia (Aisyah) berkata, “Wahai Rasulullah SAW, pernahkah engkau mengalami peristiwa yang lebih berat dari peristiwa Uhud?“ Jawab Nabi saw, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Tetapi penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah di mana aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib.

Lalu aku angkat kepalaku, dan aku pandang dan tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus Malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu,“ Rasulullah SAM melanjutkan.

“Kemudian Malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku lalu berkata, “ Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah Malaikat penjaga gunung, dan Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah SAW, “Bahkan aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“

Subhanallah..!!

Ternyata, Rasulullah telah lebih dulu mengajarkan kita untuk memiliki kemampuan ‘Mindset Programming’ dan ‘Reframing’ untuk menghasilkan ‘Mindset Positive’. Ah, NLP dan teori-teori mind programming ternyata ‘barang baru’. Tapi mengapa kita ‘mendewakannya’ ?

Ayo, saatnya kembali kepada teladan umat, Muhammad Rasulullah SAW !!!

Salam SuksesBahagia !!!


IMAM NUGROHO

Follow me @imamkamal


View Details

Sabtu, 04 Februari 2012

Temukan & Rayakan



Suatu hari saya menerima telephon dari keponakan yang berusia 2 tahun. Dia memamerkan sesuatu yang baru saja dia lakukan.

”Om, Lia dah bica pake baju ndiri.” terdengar begitu bahagia.
Sehari kemudian, masih lewat telephon, dia lagi-lagi memamerkan hal baru yang diraihnya.
”Om, Lia dah bica makan ndiri, habis lagi, Lia ceneng banget.”
”Wah, Lia hebat. Jadi sekarang Lia kalo makan ga disuapin lagi ya..”
”Iya..”
Saya tersenyum. Saya baru saja mendapatkan pelajaran baru. Anak kecil memiliki pola kehidupan yang natural. Dia selalu berusaha untuk mencoba hal-hal yang baru dalam hidupnya. Ketika melihat orang tuanya melakukan apapun, dia berusaha untuk menirunya. Dan ketika dia berhasil, dengan segera dia ”merayakan” kemenangannya itu.
Sahabat,
Temukan hal-hal yang baru dalam hidup kita walaupun itu kecil. Ciptakan hal-hal yang baru dalam hidup kita walaupun itu sepele, seperti yang anak kecil lakukan. Hidup ini tidak boleh ’flat’ atau stagnan. Muhammad SAW pernah bersabda, ”Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari sekarang.” Hal ini mengisyaratkan perlunya perubahan dalam hidup kita.
Kita yang biasanya berangkat kerja lewat jalan yang sama, sekali-kali kita merubah rute perjalanan pulangnya. Sederhana memang dan mungkin sesaat kita tidak merasakan dampaknya. Namun coba lihat beberapa waktu ke-depan, anda akan merasakan dampak dari ’kreatifitas’ hidup yang kita buat.
Hal tersebut pernah saya alami. Saya merasakan dampaknya setelah saya melakukan perubahan rute menuju tempat kerja selama 2 tahun. Apa yang saya rasakan? Saya merasa hidup ini ’kaya’ dengan suasana, hal-hal yang baru, dan itu menjadikan saya bisa menjaga ’ritme’ kehidupan sehingga lebih tenang, damai, dan emosi yang terjaga.
Sekali lagi saya tekankan, buat sesuatu yang baru dalam hidup kita, walalupun itu kecil. Bukankah sesuatu yang besar berawal dari yang kecil dulu?
Selain itu sahabat,
Temukanlah kesenangan meskipun kecil yang terjadi dalam diri kita. Banyak kesempatan untuk menemukan kesenangan tersebut, salah satunya adalah dengan menciptakan yang baru. Setelah itu, setiap hal yang baru bisa kita lakukan, dan kita-pun merasakan senang di hati, rayakan-lah keberhasilan (meraih kesenangan) itu. Sebagaimana yang keponakan saya lakukan, setelah dia berhasil, dia merayakannya dengan ’lapor’ kepada saya.
Bagaimana cara kita merayakan keberhasilan yang di-raih?
Caranya adalah dengan ’lapor’ kepada Tuhan. Inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah ’bersyukur’. Bersyukurlah setiap kita mencapatkan sesuatu yang baru dan menyenangkan. Ingat, manusia yang pandai bersyukur, akan ditambah kenikmatannya oleh Tuhan, dan sebaliknya, jika kita tidak pandai bersyukur, maka Tuhan akan memberikan azab yang amat pedih (Ibrahim : 7)
Sahabat,
Jadilah kita pribadi-pribadi yang ’penasaran’ dengan hal-hal yang baru, sehingga kita ingin mencobanya, melakukannya, dan berhasil. Rayakan keberhasilan itu dengan ’laporan’ kepada Yang Maha Kuasa, lalu lihat apa yang terjadi.




Imam Nugroho
Follow Me @imamkamal




View Details

Jumat, 03 Februari 2012

Bait Untuk Ayah

Tadi malam, tiba-tiba saya teringat Almarhum Ayah. Ya, sudah 11 tahun ayah meninggalkan dunia ini, dan meninggalkan saya dalam "kebimbangan" di usia muda kala itu. Ah, kangen ayah ...

Lalu, saya buka-buka kembali coretan-coretan yang pernah tergores kala ingat mendiang ayah, dan ditemukanlah bait-bait syair. Sudah pernah saya publish lewat notes di facebook, namun ijinkan saya untuk mempublishkannya kembali. 

Ayah, do'aku selalu menyertaimu !

Berikut adalah bait syair untuk ayah ...

Bait untuk ayah …

oleh Imam Nugroho pada 18 Februari 2010 pukul 21:27

Ayah,

kukira kau ada di rumah, menjahit di sudut ruangan, tapi ketika ku dapati, kau tak ada, kosong.. Lalu ku tanya ibu, dan beliau pun terdiam, sedih.. Aku tersadar, ayah telah kembali pada-Nya. 

Ayah, 
sedih jika teringat anakmu ini belum bisa berbuat banyak untukmu. 

Ayah,
alhamdulillah anakmu kini, telah bisa hidup mandiri, telah bekerja, bisa membahagiakan ibu, yang pernah kau titipkan dulu. 

Ayah, tapi kadang ingin kumenangis, ketika kebahagiaan ini tanpa kehadiranmu di sisiku, hingga tak banyak aku berbuat untukmu. 

Ayah,
teringat dulu ketika aku duduk dibangku sekolah dasar dan mendapatkan peringkat pertama, kau hadiahi aku dg 20 tusuk sate kambing, bahkan ketika anakmu meraih peringkat pertama nilai UAN SD tingkat kecamatan waktu itu, kau berkata seolah tidak percaya dan kau berkata, "anaku genius, padahal ayah hanya seorang penjahit kampung" 

Ayah,
kau sekolahkan aku ke SMP dan SMU terbaik di daerah, dan kau selalu bahagia tatkala aku meraih peringkat pertama. Pernah ketika SMU dulu, kau menangis dan memelukku ketika anakmu ini meraih juara umum.

Ayah,
terakhir aku membahagiakanmu ketika aku menjadi organizer Jamnas 2001, kau menangis seolah tak percaya, anakmu menjadi event organizer level nasional, padahal berasal dari kampung. 

Ayah,
namun ternyata itu yang terakhir, sepekan kemudian kau jatuh sakit dan aku mendapatkanmu sudah tidak bisa apa-apa. Tiga hari kemudian, kau hempaskan nafas terakhirmu. Aku menangis... 

Ayah,
sungguh setelah kau tiada, kehidupanku terasa berbeda, tapi aku besyukur, karena dengannya aku diajari kehidupan untuk menjadi orang yang dewasa. 

Ayah,
satu tekadku, aku harus berhasil meraih apa yang kau impikan, agar kau bahagia di alam sana, karena hanya itulah aku bisa berikan padamu, selain doa-doa khusyu'ku. 

Ayah, 
i will always love you !!!

***








View Details

Kamis, 02 Februari 2012

Rumus Canggih Parenting



Memasuki bulan Februari. Perasaan saya begitu berkecamuk. Senang, bahagia, takut, khawatir, dlsb. Mengapa ? karena, berdasarkan perkiraan dokter ataupun bidan, istri saya, dibulan Februari ini akan melahirkan. Ya, anak saya akan terlahir ke dunia di bulan ini. Sudah pasti, persiapan-persiapan harus saya lakukan. Baik persiapan materi, dan tentunya yang terpenting adalah persiapan mental, mental sebagai seorang ayah yang bertanggungjawab terhadap perkembangan anaknya kelak ke depan.

Untuk persiapan yang terakhir ini (mental), saya mencoba merenungkan diri. Apa yang direnungkan ? Anak ! Ya, tentang sosok seorang anak.
Didalamnya saya menggali lebih dalam mengenai hakikat parenting. Kemudian saya mencari beberapa sumber kajian yang membahas tentangnya. Al-Quran (surat Lukman), hadist-hadist parenting, ataupun kajian yang menggunakan pendekatan psikologi.

Aha, akhirnya saya menemukan rumus canggih dalam parenting. Rumus canggih ? Ya, tidak perlu kita repot-repot untuk menghafalnya dan mengaplikasikannya. Sangat mudah. Cukup dalam kata “ANAK”. ANAK adalah ilmu parenting itu sendiri. Apakah ANAK itu ?

Asuh ku asih. Mengasuh dengan penuh kasih sayang. Ini adalah tahap pertama parenting. Bentuk kasih sayangnya adalah dengan rajin untuk mendekapnya. Dekapan orang tua menghadirkan ketenangan bagi anak. Dalam sebuah penelitian juga disebutkan, dekapan orang tua, dapat mengurangi tingkat stress atau depresi anak. Terlebih, saat ia berusia 0-2 tahun, sering-seringlah didekap penuh cinta dan kasih sayang.

Nalarkeun. Tahap kedua dalam parenting adalah begaimana kita memberikan stimulasi bagi anak untuk “berfikir” dan “bernalar positif”. Kuncinya ada dalam komunikasi. Ya, sering-seringlah mengajak anak berbicara. Sebagai catatan, jangan mengajak bicara ke anak dengan kata-kata plesetan. Sebagai contoh, kata “sayang” tidak boleh disebutkan dengan kata “cayang”. Sederhana memang, tapi kata-kata kita akan dengan cepat terekam dalam memori anak, dan itu berpengaruh dalam perkembangan nalarnya.

Selain itu, janganlah pula kita menanamkan penalaranan begatif kepada anak. Penalaran negative terjadi ketika anak kita didik dengan pencarian kambing hitam dari setiap masalah. Sebagai contoh, ketika anak terjatuh, janganlah kita berkata, “Wah, kodoknya loncat tuh.” “Aduh, lantainya nakal ya, sini ayah pukul lantainya. Uh, uh, lantai nakal.” Lho, emang kodok salah apa ? Lantai salah apa ? Ya, ada yang mengatakan hal itu sebagai bentuk pengalihan, tapi menurut saya tidak efektif bahkan akan menjadi blok mental si anak. Sebaiknya, jika anak terjatuh, yang kita katakana adalah, “Duh, sayang, mana yang sakit, yuk kita obatin. Wah, anak ayah memang hebat ya, bisa nyembuhin yang sakitnya.” Sambil kita elus-elus daerah yang sakit. Hal ini akan membuat pola pikir dan nalar yang positif bagi anak. Anak akan dengan sendirinya ketika “sakit” langsung “mengobatinya”. Artinya, ia bisa sebagai problem solverterhadap masalahnya, bukan mencari penyebab dari masalahnya. Mencari sumber penyebab adalah sebagai tindakan antisipatif berikutnya. Maka, katakan kepada anak kita, “Nak, nanti kalau jalan hati-hati ya, biar tidak jatuh lagi.” Nah, setelah kita mengasuh dengan penuh kasih dan memberikan penalaran positif, selanjutnya adalah,

Arahkeun. Ya, arahkan anak kita sesuai dengan aturan-Nya, sebagaimana Allah menyebutnya dalam Q.S. Lukman ayat 13-19, yaitu :


  • ·      Tanamkan nilai ketauhidan pada anak, tidak syirik atau mempersekutukan Allah (syirik dalam konteks yang luas).
  • ·        Ajari anak untuk menghormati kedua orang tuanya (birrul walidain).
  • ·   Sampaikan kepada anak, bahwa apapun tindakan kita, amalan kita, baik atau buruk, akan mendapatkan pahala atau balasan dari Allah. Arahkan, agar anak termotivasi untuk ber-amal hasanah. Maka,
  • ·    Perintahkan anak untuk mendirikan shalat dan menjadi sumber energy positif bagi sesama, dengan mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah apa yang munkar.
  • ·    Bekali mereka dengan mental “sabar”. Artinya, bagaimana anak kita kelak menjadi manusia yang memiliki paradigm positif terhadap kehidupan dan masalahnya (diawali dalam penalaran positif pada anak, nalarkeun !). Setelah itu,
  • ·    Sampaikan kepada mereka untuk menjadi anak yang tidak sombong, angkuh, dan berkata kasar kepada manusia. Sungguh, Allah membenci itu semua.

Itulah bentuk “arahan” kita kepada anak sejak mereka mulai beranjak dewasa. Dan terakhir dari rumus canggih parenting kita adalah,

Kuer hirup manehna keneh. Artinya, semua yang kita lakukan dari awal (asuh ku asih, nalarkeun, dan arahkeun) adalah demi kehidupannya, baik di dunia ataupun di akhirat. Jadikan mereka anak yang bertanggungjawab terhadap diri dan kehidupannya.

Maka, jadilah kita orang tua yang tidak khawatir terhadap generasi anak-anak nya. Karena kita telah menanamkan nilai-nilai. Karena kita telah membuat mereka kuat, kokoh berdiri di atas kakinya.

Sebagai penutup, saya sampaikan sebuah dialog imajiner antara seorang anak dan ibunya. Semoga bermanfaat.

Seorang anak bertanya kepada Ibunya:

"Ibu temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang supaya tidak menggigit anaknya. Apakah Ibu juga lakukan hal yang sama?"

Sang Ibu tertawa "Tidak. Tapi Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam, supaya tidak sempat menggigit siapapun"

"Oh iya. Kubaca tentang seorang Ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Akankah Ibu lakukan hal yang sama?", si anak kembali bertanya.

Dengan tegas Ibunya menjawab "Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan kenyang, dan kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar".

Sang anak tersenyum...

"Aku bisa selalu bersandar padamu Ibu".

Sambil memeluknya si Ibu berkata "Tidak Nak!. Tapi Ibu akan mengajarmu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kau tidak harus jatuh tersungkur ketika suatu saat nanti Ibu harus pergi meninggalkanmu".


Salam SuksesBahagia !!!Top of Form


IMAM NUGROHO
Mindsetter SuksesBahagia



View Details
 

Labels

Popular Posts