Sabtu, 24 Desember 2011

Konsep Hidup SuksesBahagia




Banyak orang yang bertanya kepada saya, apa makna dan hakikat dari hidup SuksesBahagia. Banyak juga orang yang mendefinisikan atau menterjemahkan sukses dengan “dimilikinya” harta, tahta, kata, dan cinta. Hum, tidak salah pen-definisian itu, artinya sah-sah saja. Karena, satu sisi, memang begitulah kenyataannya.
Sahabat,
Ada sisi lain (dan saya yakin, akan banyak sisi-sisi lainnya) dari konsep SuksesBahagiaitu. Disini, saya mencoba membuka sisi SuksesBahagialainnya. Dari sekian lama saya mencoba “menafsirkan” dan membuat konsep SuksesBahagia, baru beberapa waktu yang lalu saya menemukannya.
Aha, apakah itu ?



Lihatlah firman Allah SWT :
Katakanlah: "Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”
(Q.S. Al-Quran [6] : 162-163)
Ayat di atas, mengisyaratkan konsep hidup SuksesBahagia, yaitu terbebasnya diri dari ketersandaran kepada selain Tuhan. Konsep hidup SuksesBahagia adalah hidup yang menjadikan kehidupannya untuk Tuhan. Konsep hidup SuksesBahagia adalah hidup yang terbebas dari tuhan selain Tuhan (t kecil dan T besar).
Sesungguhnya shalatku hanya untuk Allah. Ada diantara kita, menjadikan shalatnya untuk dunia. Misalkan, agar dilihat sebagai orang ahli surga, orang paling alim, dan orang yang paling shaleh. Nah, ketika ada debu-debu “tuhan” lain seperti itu, maka kehidupannya tidaklah akan menemukan kesuksesan apalagi kebahagiaan di hari akhir kelak. Ia akan “tersiksa” ketika orang lain tidak menganggapnya seperti yang ia harapkan. Maka, shalatlah hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.
Oh ya, sebagai catatan, shalat adalah bentuk ibadah mahdah, yaitu ibadah yang langsung “berkomunikasi” dengan Tuhan. Setiap agama memiliki caranya masing-masing dalam hal “berkomunikasi” dengan Tuhan. Oleh karena itu, bagi Anda yang non-muslim, konsep ini bisa disesuaikan dengan cara Anda dalam “berkomunikasi” dengan Tuhan. Lalu,
Ibadahku hanya untuk Allah. Ibadah dalam konteks yang luas.  Kerja di kantor itu ibadah. Kerja di rumah, memiliki usaha sendiri, itu juga ibadah. Menjadi suami, ibadah besar. Menjadi ibu rumah tangga-pun, ibadah yang sangat besar. Nah, janganlah ibadah-ibadah itu kita rusak dengan niatan duniawi belaka. Misalkan, sebagai karyawan di kantoran, kita hanya terobsesi untuk “uang belaka”, atau pujian dari atasan, sungguh, kesuksesan dan kebagahagiaan hidup sebagai seorang karyawan tidak akan diraih. Mengapa ? Karena, belum tentu obsesi itu akan kita raih, bisa jadi, bukan pujian yang kita dapatkan, tetapi celaan yang sangat menyakitkan, rasa sakit itu, bukanlah ciri orang yang SuksesBahagia.
Masih ingat hadist no 1 di Hadist Arba’in kan ? Segalanya tergantung niat ! Ketika kita niatkan untuk akhirat (mengharap ridho Allah), maka keuntungan dunia dan akhirat kita dapatkan. Namun, ketika kita niatkan hanya untuk dunia, akhirat sudah pasti tidak akan kita dapatkan, sementara “pendapatan” dunia pun belum tentu kita raih juga. Maka, ibadahlah hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Selanjutnya,
Hidup dan matiku hanya untuk Allah. Ini adalah misi hidup sesungguhnya. Dan dengan misi inilah, mengapa manusia mahluk paling mulia bila dibandingkan dengan mahluk lain ciptaan Allah. Inilah SuksesBahagia yang sesungguhnya. Inilah kemerdekaan diri dari selain Allah. Lihatlah manusia yang masih menuhankan selain Allah, Tuhan Semesta Alam. Hidupnya jauh dari ketenangan, kebahagiaan, atau kesuksesan.
Bisa saja tuhan mereka itu adalah hartanya, sehingga merasa khawatir jika hartanya berkurang atau ada yang mengambilnya. Enggan sekali untuk bersedekah, berinfak, atau berzakat.
Bisa juga tuhan mereka adalah tahta, sehingga berbagai cara ia tempuh (meskipun cara itu “diharamkan”) untuk mendapatkan posisi jabatan atau pekerjaan yang “mapan” dalam paradigmanya. Lihatlah, berapa banyak orang melakukan praktek suap hanya demi mejadi seorang PNS (misalkan). Ah, mereka telah menuhankan tahta atau jabatan atau pekerjaan dalam hidupnya.
Atau kata dan cinta juga mereka jadikan sebagai tuhan dalam hidup ini. Mereka sangat berambisi untuk menjadi orang yang terpandang dan popular di tengah masyarakat. Mereka gila kehormatan.
Apakah manusia seperti itu akan merasakan hidup SuksesBahagia ? Saya jamin TIDAK !!! Karena hatinya penuh dengan nafsu duniawi belaka. Kalaupun mereka merasakannya, itu adalah fatamorgana kehidupan belaka.
Sahabat,
Keberserahan diri hanya kepada Allah adalah landasan konsep hidup SuksesBahagia.Eitts, jangan salah tafsir juga ya, “keberserahan” bukanlah pasrah, tapi ia adalah tawakal sebagaimana tawakalnya Nabi dan Rasul Allah dalam menjalani misi sebagai khalifah, hamba, dan pen-dakwah. Begitu juga dengan kita. Misi kita sama, yaitu sebagai khalifah, hamba, dan pen-dakwah. Ya, kita adalah wakil Allah, kita adalah hamba yang harus beribadah kepada-Nya, dan kita sebagai penyeru kepada kebaikan.
Bagaimana agar kita bisa memiliki dan mengaplikasikan konsep hidup SuksesBahagia, yaitu yang menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya hanya untuk Allah ?
Tunggu tulisan saya berikutnya ya ….
[to be continue]


Salam SuksesBahagia !!!

KAMAL, Imam
Mindsetter SuksesBahagia

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Popular Posts